Tokoh Sastra Arab Ahmad Zaki Abu Shadi

Ahmad Zaki Abu Shadi (1892-1955 M) merupakan penyair arab modern yang sangat produktif yang lahir pada tanggal 9 Februari 1892 Di Hayyi’Abiddin, Kairo; Mesir. Ayahnya adalah seorang Advokat (pengacara) sekaligus anggota senat , poitikus, dan jurnalis terkenal yang telah mempublikasikan beberapa antologi dan membuka “salon” sastra pada setiap malam rabu.(6) Sementara itu ibunya bernama Aminah ialah seorang penyair yang mempunyai hubungan saudara kandung dengan adik peyair terkenal Mustahafa Najib. Abu Shadi tumbuh dan berkembang dalam keluarga dan lingkungan para penyair atau sastrawan sehingga tidak aneh saat umurnya baru menginjak 16 tahun, usia yang relatif muda, bisa dikatakan umurnya masih baru seumur jagung bagi seorang sastrawan besar, pada saat itu ia sudah menerbitkan jenis karya sastra berupa puisi dan prosa yang diberi judul Qatrat Man Yara’ Fil Adab Wal-Ijtima. Karya ini menurut Kharil Murtan yang aktif menghadiri “Salon” sastra tersebut. Menunjukan betapa luasnya wawasan dan pengetahuan Abu Shadi tentang Unsur yang membentuk Suatu karya sastra Seperti bentuk (Form), Gaya bahasa (Style) dan bahasa (Language) baik sastra arab maupum inggris/barat disuatu sisi, dan pada sisilainnya ia sangat peka dalam menjawab problemmatika unsur ekstrisik juga gejala sosial masyrakat seperti persoalan persoalan politik, kebudayaan, problem masyarakat pada umumnya. Baca pos ini lebih lanjut

Puisi Arab (syair ) Jahiliah Sebagai orisinilitas peradaban bangsa Arab

1. Puisi (Syair) Arab Pada Masa Jahiliah

Mendengar kata jahiliah mungkin asumsi yang terdengar adalah asumsi negative yang mengklaim bahwa masyarakat pada waktu itu adalah bodoh dan tidak memiliki peradaban. Padahal realitasnya tidak seperti itu, bangsa arab pada masa jahiliah bukanlah bangsa yang bodoh yang akhlaknya ruksak, moralnya dangkal dan tidak memiliki peradaban tinggi. Mereka tidak mempunyai karya cipta dan hasrat untuk menopang peradabannya menjadi peradaban yang tinggi juga makmur diabadikan oleh sejarah, akan tetapi pada masa ini merupakan masa awal yang subur bagi berkembangnya genre sastra puisi sebagai cipta rasa kebudayaannya yang orisinil yang menjadi rekaman sejarah mereka.

Melihat dari historisitasnya sebenarnya orang pertama yang menamai bangsa arab jahiliah adalah Rasuluah SAW. Kata jahiliah dinisbatkan rasululah untuk menyebut bangsa arab sebelum islam yang kapir dan selalu membangkang pada kebenaran. Ahmad Amin seorang pakar sejarah dan kebudayaan islam memberikan defenisi mengenai kata jahiliah, menurut hemat beliau kata jahiliah bukanlah berasal dari kata jahl yang berarti bodoh tiada ilmu tetapi jahl disini adalah dalam artian saffah, ghadhab, anfak (sedai, berang, tolol). Jadi bangsa arab jahiliah adalah bangsa arab sebelum datangnya islam yang keras kepala selalu membangkang kepada kebenaran, mereka terus menentang kebenaran meskipun mereka tahu bahwa mereka salah ataupun dalam posisi tidak benar. Baca pos ini lebih lanjut

Hermeneutika Dalam Karya Sastra

Secara historis hermenika berasal dari motologi yunani, yang berasal dari seorang tokoh mitologis yang bernama hermes yakni seorang utusan yang mempunyai tugas sebagai perantara/ penghubunga antra dewa jupiter dengan manusia. pada intinya ia menyampaikan pesan dari dewa jupiter kepada manusia. hermes dilukiskan sebagai seorang yang mempunyai kaki bersayaf dan lebih banyak dikenal dengan sebutan merqurius dalam bahasa latin. Tugas Hermes adalah meninterpretasikan pesan-pesan dari dewa Jupiter diginung olympus kedalam bahasa yang dapat dimengerti oleh umat manusia. oleh sebab itulah fungsi Hermes disini sangat urgen dan fital sekali karena kalau terjadi kesalahan pemehaman tentang pesan pesan dewa tersebut akibatnya akan pfatal bagi manusia. Hermes harus mampu menginterpretasikan atau menyaadur sebuah pesan kedalam bahasa yang digunakan oleh penuturnya. kalau di asosiasikan secara skilas hermeneutik dengan hermes, menunjukan akhirnya pada tiga unsur yang akhirnya menjadi periable utama pada kegiatan manusia dalam memahami dan membuat interpretasi terhadap berbagai hal yakni:1. tanda, pesan atau teks yang menjadi sumber atau bahan dalam penafsiran yang diasosiasikan dengan pesan pesan yang dibawa Hermes dari dewa Jupiter di gunung Olimpus tadi.
2. perantara atau penafsir (Hermes).
3. penyampaian pesan itu leh sang perantara agar bisa dipahami dan sampai kepada yang menerima. Baca pos ini lebih lanjut

Tahun Hijriyah Presfektif Aqqad

 I. Pendahuluan

Pertanyaan pertama yang terlontar pada sejarah Hijriyah dalam artikel Aqqad adalah لم يكن يوم بدر أو يوم ولادة النبي او يوم حجة الوداع يومابتداءء التاريخ؟. Dari sinilah Aqqad memulai penulusuran atau mencari alasan tentang tahun hijrih, di mana pada tahun ini dipakai sebagai permulaan tahun Islam. Dengan mengkaitkan alasan, argument, beserta sejarahnya Aqqad menulis dan mencoba memberikan jawaban menurut perspektifnya yang temaktub dalam  artikel“التاريخ الهجري ” aqqad. Dari situlah pemakalah mencoba menemukan makna yang terkandung di dalamnya. Makna tahun hijriyah yang dipakai sebagai permulaan tahun Islam.

Dengan mengunakan teori Struktural Murni sebagai landasannya pemakalah mencoba menganilisis artikel tersebut guna menemukan makna otonom yang terkandung di dalamnya (Intrinsik). Selain itu teori Struktural Murni dipakai untuk mengetahui keterjalinan antara paragraf satu dengan paragraf lainnya guna menemukan makna yang utuh. Secara definif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antarhubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, dipihak yang lain hubungan antara unsur dengan totalitas. Baca pos ini lebih lanjut

Perubahan Makna Dalam Linguistik

 A.    PENDAHULUAN
Ada dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.[1] Lain halnya menurut Owen dalam Stiawan (2006:1), menjelaskan definisi bahasa yaitu language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan). Baca pos ini lebih lanjut

Kritik Feminis dalam Cerpen Lailatu Az-zafaf Li Taufik Hakim

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar belakang Masalah

Sastra merupakan segala aktivitas manusia atau prilakunya, baik yang berbentuk verbal maupun fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Aktifitas itu berupa fakta manusia yang melahirkan aktivitas social tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi cultural seperti filsafat, seni rupa, seni gerak, seni patung, seni music, seni sastra dan yang lainnya. Setiap kita hidup dan beraktivitas, kita tidak sadar bahwa sebenarnya dunia sastra sangat berkaitan erat dengan kita semua. Teuw pernah berpendapat bahwa sastra berada dalam urutan keempat setelah agama, filsafat, ilmu pengetahuan, sebagai disiplin ilmu ia menempati posisi keempat karena menurut hemat penulis ke empat bidang tersebut saling bertransformasi dan merugulasi diri (self regulating) bidang mereka masing masing. Baca pos ini lebih lanjut

Teori Struktural Jean Peaget dalam Syair Umrul Qais

 1. Latarbelakang Masalah

Umrul Qais adalah penyair arab jahili yang hidup pada 150 tahun sebelum hijrah. Julukannya Al-Malik Ad Dhalil (raja dari segala raja penyair), penyair in berasal dari suku Kindah yang pernah berkuasa penuh di Yaman (Hadramaut). Ia merupakan pemuka para penyair jahili dan pemimpin mereka dalam pengembangan tehnik dan seni bersyair dalam berbagai macam cara.

Kiprah Umrul Qais dalam dunia sastra arab sebagai penyair sudah tak terbantahkan lagi dan tak perlu di pertanyakan kualitas-kualitas syairnya yang khas terutama dalam wasf (pelukisan/narasi), dalam menggambarkan sesuatu karena kekuatan daya khayal/imajinasinya yang tinggi. Itulah yang mengakar pada karya syair beliau yang diabadikan dalam syair mualaqotnya[1] yang akan peneliti bahas. Baca pos ini lebih lanjut