Ikonitas Piercean dalam Cerpen Jannatul Atfal li Nugaib Mahfouz

 I. PENDAHULUAN

Dengan menggunakan analisis teori semiotic Charles Sander Peirce, paper ini mencoba untuk mengungkap unsur simbolitas yang membangun cerita pendek Jannatul Atfal karya nobelis sastra arab Najib Mahfudz. Dalam cerpen karya Najib Mahfudz ini tampaknya agama dan anak-anak menjadi tema sentral yang membangun sebuah pesan kepada pembaca. Cerpen ini sangat menarik karena di dalamnya terdapat pemikiran-pemikiran kreatif, imajinatif dan inofatif untuk dikaji sebagai proses pembelajaran yang inspiratif baik bagi orang muda, anak-anak, khususnya orang tua yang mempunyai anak yang cerdas dan kritis. cerpen ini mengajarkan pendidikan agama sangat penting sekali dalam sebuah keluarga dan mempunyai peranan sentral karena keluarga merupakan tempat bersemayamnya pemahaman kepercayaan dan keyakinan anak-anak tentang keberagamaan. Dalam alur ceritanya terjadi dialog menarik antara si anak dengan si ayah. Yang membicarakan pengetahuan agama, tentang kematian, tentang tuhan, tentang nabi, perbedaan agama, dan persahabatanya dengan Nadia seorang teman yang berlainan agama.

Cerpen merupakan karya sastra berbentuk prosa yang tidak boleh lebih dari 15000 kata atau setara dengan lima puluh halaman.[1] Menurut Enric Anderson[2] seorang kritikus modern Universitas Harvard adalah cerita yang bisa dibaca dalam satu kali kesempatan dengan tokoh yang relatif sedikit dan ada kesatuan nada. Apapun definisi yang di berikan tampanya unsur keringkasan dan kependeken dalam cerpen itu penting dan unsur inilah yang membedakannya dengan novel dan romance. Cerpen Jannatul Atfal karya Najib Mahfudz syarat akan system tanda, setiap kata dan kalimat di balik cerpen ini mengandung makna. Sastrawan sekelas Najib Mahfudz menulis sebuah karya tidak sembarangan dan asal, dibalik semua itu pasti ada sabab musababnya dan pasti ada makna yang dituju dan dimaksud untuk pembaca.

Semiotic dalam pengertian tanda ada dua macam yakni penanda (signifier) yang menandai dan petanda (signified) ditandai. Sedangkan berdasarkan hubungan penanda dan petanda ada tiga jenis tanda yang pokok menurut Charles Sander Pierce yakni ikon, indeks dan symbol.[3] Dalam paper ini penulis berusaha melihat dan mengungkap unsur ikonitas dalam cerpen Najib Mahfudz, Dengan menggunakan teori semiotic Charles Sander Peirce tentang ikonitas sebagai system tanda. Menurut Aart Van Zoest,[4] di antara ikon, indeks, dan symbol, yang terpenting adalah ikon. Memgapa demikian hal tersebut tidak lain disebabkan karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. Di pihak yang lain, sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain yang ada di luar dirinya, agar ada hubungan yang representatif, maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Pada dasarnya, baik ikon, indeks, maupun simbol secara murni tidak pernah ada. Artinya, ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. Hanya saja yang membedakan adalah dominisasinya di dalam teks. Teks yang dimaksud disini adalah cerpen jannatul atfal karya najib mahfudz.

II. PEMBAHASAN

Sebelum kita menginjak ke ranah semiotic penulis akan meuraikan terlebih dahulu tema sentral dalam cerpen Jannatul Atfal ini dengan metode structural supaya lebih mudah untuk dianalisis secara semiotik.[5] Sebagaimana telah dipaparkan diatas tema keagamaan menjadi tema mayor yang menjadi bahan diskusi bagi sianak dengan ayahnya.

1. Pentingnya Pengetahuan dan Pendidikan Agama

Pentingnya tentang pengetahuan dan pendidikan agama terhadap seorang anak harus di tanamkan sejak dini, seorang ayah dan ibu harus bisa memberi pengetahuan tentang asal usul agama yang dia anut sebagai dasar pendukung system keyakinannya. Dalam cerpen ini si ayah memberikan paparan tentang mengapa anak perumpuan itu muslimah dan kenapa si Nadia temannya itu Nasrani. hal ini bisa dilihat dari kutipan cerpen di bawah ini.

“Ayah seorang muslim, Ibu seorang muslimah, maka dari itu kamu juga seorang muslimah.”…. “dan Nadia?”…. Ayahnya seorang Nasrani dan ibunya seorang Nasrani, maka dari itu juga di seorang Nasrani.”[6]

Tema pengetahuan agama di atas merupakan sebuah amanat kepada anak-anak usia dini untuk belajar tentang asal-usul agama atau historitas sebuah agama. Disamping itu pendidikan yang dilakukan keluarga terutama ayah dan ibunya menjadi penting karena biasanya tempat bersandar dan mengadu seorang anak ialah pada mereka berdua. ini mengingatkan kita pada sebuah hadist rasul; setiap anak yang lahir kebumi ini adalah dalam keadaan suci itu ter gantung dari ayah ibunya mereka, apakah di akan menjadi seorang Yahudi, Nasrani, atau Islam. Melihat kutipan cerpen di atas penulis menemukan indeksitas dimana pada kutipan tersebut adanya hubungan sebab-akibat (kausalitas) antara penanda dan petandanya,[7] sebab si ayah dan si ibu seorang muslim itu mengakibatkan anaknya menjadi seorang muslim dan sebaliknya yang terjadi pada Nadia temannya di sekolah, sebab ayah dan ibunya seorang nasrani maka itu berimbas kepada Nadia yang menjadi anak seorang Nasrani. Jadi unsur agama yang dianut oleh si ayah dan ibu menjadi penanda yang menandai sesuatu yang disebut petanda yakni agama yang di anut seorang anak itu sama dengan kedua orang tuanya menjadi petanda sesuatu yang ditandai oleh penanda.

2. Perbedaan Agama

Tema perbedaan dalam cerpen ini terjadi pada percakapan antara si anak dan si ayah, ketika dalam pelajaran agama disekolahnya mereka berdua tidak selalu sekelas karena berbeda agama yang di peluknya. Tokoh utama si anak ini menjadi gelisah karena pada setiap waktu di sekolah ia selalu bersama temannya nadia tetapi dalam pelajaran agama ia berpisah disebabkan ia seorang muslim dan nadia seorang nasrani. Seperti pada kutipan cerpen dibawah ini;

namun pada pelajaran agama saya dan nadia masuk pada kelas yang berbeda. Ini hanya terjadi pada pelajaran agama saja.” …kenapa ayah?.. “kamu berbeda agama dengan dia.” … ”kamu seorang muslimah sedangkan dia seorang nasrani.” [8]

Dari kutipan diatas penulis menyimpulkan bahwa si anak dan si nadia itu adalah teman baik dan teman akrabnya di kelas. Si anak tidak mengerti kenapa di kelas tempat ia menimba ilmu agama ia tidak bersama nadia yang berlainan agama yang menyebabkan ia berpisah sejenak dengan teman baiknya tadi. Melihat itu semua nampaknya si anak tidak mengerti bahwa penempatan kelas lain kepada siswa yang berlainan agama itu merupakan unsur simbolik dalam system semiotiknya piercean yakni hubungan antara penanda dengan petanda disebabkan adanya konvensi masyarakat.[9] Konvensi atau kesepakatan ini mungkin di buat oleh system pendidikan modern yang ada di Mesir seperti yang ada di Indonesia ketika ada siswa yang berlainan agama ia tidak berkewajiban mengikuti pelajaran agama tersebut dan berada di kelas lain untuk mendapatkan pelajaran agama sesuai yang diyakininya. Pada kasus ini petanda menjadi objeknya penanda sebagai dampak dari konvensi masyarakat atau hokum system pendidikan tadi.

3. Kerukunan Beragama dan Toleransi Beragama

Perbedaan agama antara si anak dan si Nadia temannya sekelas tidak menjadi halangan mereka untuk bersahabat seperti yang dikatakan si anak dalam kutipan cerpen; “aku bersama sahabatku nadia selalu pergi bersama-sama”… didalam kelas di halaman sekolah, dan di jam makan.[10] Ini menandakan adanya hubungan yang baik diantara dua insane yang berlainan agama untuk hidup rukun dan berdampingan seperti kutipan dibawah ini;

“Seorang muslim itu baik dan nasrani juga baik.”, dan di tegaskan pula oleh penjelasan ayahnya; “setiap agama itu baik, seorang muslim menyembah allah dan juga seorang nasrani menyembah allah.”[11]

Kata hasan memiliki makna simbolik shalihun artinya baik. Dalam konteks pemakaiannya kata hasan mempunyai arti sikap, etika, akhlak atau kelakuan budi pekerti yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Berbeda dengan yang namanya haqqun yang mempunyai makna simbolik shahihun, shaaibun dan shadiqun yang berarti benar dalam konteks pemakaianya digunakan pembenaran dalam aqidah kepercayaan dan keyakinan yang benar, baik dalam aspek agama, hokum, penilaian dan lainnya.[12]

Jadi pernyataan di atas merupakan sebuah seruan moral untuk hidup bersama-sama berdampingan dan mengajak untuk saling menghormati, menghargai juga hidup rukun karena setiap agama mempunyai kepercayaannya masing-masing. Kita di bolehkan untuk bergaul bahkan di anjurkan dengan mereka dalam hal kehidupan social masyarakat seperti yang dilakukan sianak dan nadia yang selalu bersama-sama ketika saat belajar disekolah, saat makan dan bermain. Itu merupakan implementasi toleransi yang sesunggunya bukan berarti mencampur adukan agama dalam hal aqidah dan ritualnya yang menyebabkan keimanan kita luntur. Dan ketika ada unsure paksaan terhadap itu, maka undang Negara kita Indonesia mengaturnya pada UUD 45 Pasal 9 ayat 1; setiap warganegara Indonesia berhaq memilih keyakinannya masing-masing yang dianut tanpa unsure paksaan. Dan al-Quran juga mengatakan; aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah tuhan yang aku sembah; untuku agamaku dan untukmu agamu (al-kafirun; 4-6).

Dari uraian diatas agama mempunyai peran sentral dalam dalam kehidupan social masyarakat. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus di didik dengan baik dan benar oleh keluarganya. Pendidikan agama untuk anak harus ditanamkan sejak dini dalam keluarga oleh karena itu seorang ayah dan ibu harus mempunyai kemampuan yang mempuni tentang agama supaya bisa ditranspormasi oleh anaknya dan ketika ia bergaul dengan anak sebayanya yang berbeda agama ia tidak akan terpengaruh secara aqidah dan kepercayaan, ia dapat bergaul seperti yang dilakukan si anak dengan si nadia walaupun berbeda agama dengan bekal pengetahuan yang cukup dari ayahnya si anak mengatakan; aku ingin bersama nadia walau dalam pelajaran agama,[13] ini berarti bahwa ia telah menyerap bahwa berbeda agama bukanlah jadi alasan untuk kita tidak bergaul, bekerja atau sebaiknya.

4. Hubungan Antar Agama yang Berkebaikan

Penulis melihat dalam cerpen ini adanya hubungan ikonitas antara agama Islam dengan Nasrani. Ada kesamaan objek yakni tuhan yang mereka sembah sama-sama menyebut nama tuhannya dengan nama Allah, mereka sama-sama meyakini bahwa mereka agama wahyu, agama monoteis dan mereka meyakini bahwah Muhammad, Musa, Daud, Sulaiman, dan Isa/Yesus adalah utusan Allah. Disamping itu dalam teks cerpen dikutip Nasrani sebagai agama mode lama (moodhah qodimah) dan Islam sebagai agama mode baru (moodhah jadidah).[14]

Ikon adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan. Jadi, representamen mempunyai kemiripan dengan objek yang diwakilinya. Ikon terdiri atas tiga macam. Yaitu : ikon topologis, ikon diagramatik dan ikon metaforis.[15] Ciri- ciri khas dari ikonisitas yaitu adanya persamaan dan kemiripan yang ternyata dapat memberi rasa aman. Ciri- cirinya dengan sendirimya dapat menimbulkan daya tarik tersendiri.

Ketika Islam dan Nasrani menyembah nama allah dan mengkalim agama mereka sebagai agama monotheist ini merupakan Ikon metaforis karena terdapat hubungan yang berdasarkan kemiripan meskipun hanya sebagian yang mirip, dan, kemiripan itu tidak total sifatnya karena dalam melakukan aspek ritual, kitab suci, nabi dan memandang allah mereka berbeda tetapi esensi mereka sebagai agama monoteis, agama wahyu dan agama Ibrahim ada kemiripan. Disamping itu terdapat Ikon diagramatik yakni hubungan yang berdasarkan kemiripan tahapan seperti dalam teks ada moodhah khadimah (Nasrani) dan moodhah jadidah (Islam) . jadi allah mengirimkan agamanya melalui rasulnya terhadap tahapan berbeda, pertama mode lama (Moodhah Jadidah) yakni agama Nasrani yang di utus nabi Isa/Yesus dan injil sebagai kitab sucinya. Bahkan sebelum Nasrani ada agama Yahudi yang diutus banyak rasul seperti nabi Musa, Daud, Sulaiman dll, yang mempunyai kitab suci taurat dan zabur ( kitab-kitab perjanjian lama) sebagai mode lama. Dan seterusnya mode baru moodhah jadidah agama Islam yang di utus nabi Muhammad sebagai rasul dan al-Quran sebagai kitab sucinya. Terus contoh lain dari ikon diagramatik dalam cerpen Najib Mahfudz ini adanya tahapan mengenai aspek ritual kepercayaan agama Islam yang sangat mendasar dan ini wajib hukumnya diketahui oleh anak-anak yaitu rukun iman. aspek rukun iman yang terdapat dalam teks cerpen ini yakni tentang Allah sang pecipta segala sesuatu yang kuasa atas segalanya, kita harus beribadah kepadanya dengan membaca surat al-quran ( kitab suci) dan melakukan shalat, iman kepada para nabi. Terus percaya pada surga dan neraka (adanya hari kiamat) juga akan takdir dan ketetapan allah seperti kematiaan seseorang baik itu karena sakit atau tidak.

Dan yang terakhir Ikon topologis adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan bentuk atau strukturnya. Penulis melihat adanya kesamaan atau kemiripan antara bentruk struktur karakter yang ada di dalam cerpen ini dengan karakter system Negara yang ada saat ini. Maksudnya ada kesamaan bentuk struktur tokoh si ayah, si anak dan si ibu dalam membangun keluarga dengan kesamaan karakter bentuk struktur kepala Negara, rakyat dan wilayah ibu pertiwi dalam membangun system ketanegaraan yang baik, Yakni karakter seorang ayah ini menjadi simbol seorang kepala negara, karakter seorang anak menjadi simbol rakyat dan karakter ibu menjadi simbol ibu pertiwi. Dalam ikon tipologis ini kita mengetahui bahwa peran agama mempunyai peranan yang sangat penting sebagai petunjuk, tempat mengadu dan meminta, supaya terciptanya system Negara yang di inginkan yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. Tidak sedikit rakyat memerlukan bimbingan kepala negaranya yang bisa mengarahkannya kepada jalan benar supaya tercapainya kesejahtaan rakyat dan bangsanya seperti yang dilakukan sang ayah selalu mengarahkan anaknya dan mengayomi pertanyaan anaknya supaya berteman baik kendati berbeda agama. Ibu yang memiliki sifat visioner seperti dalam kuipan “kelak kamu akan tumbuh sebagai perempuan dewasa dan kamu akan mampu melihat kenyataan”.[16] Kendati tidak terlalu menonjol dalam cerpen ini si Ibu mempunyai symbol ibu pertiwi ini karena ia mempunyai peran pasif sebagai tempat bernaung, lebih dari itu sang ibu merupakan sumber daya yang sangat di butuhkan rakyatnya dan kepala Negara sebagai visioner dalam membangun sistem ketatanegaraan yang baik. Sedangkan Nadia sebagai tokoh fiktif dalam cerpen ini dijadikan penghubung untuk menuju tema sentral yang dibutuhkan oleh ketiga karakter tokoh tersebut yakni hubungan umat beragama yang berkebaikan sebagai kunci membangun pemerintahan Negara.

III. SIMPULAN

Berdasarkan analisis cerpen Janntaul Atffal karya Najib Mahfudz menggunakan teori semiotic pircean diatas, maka cerpen ini memberikan pesan dan amanat kepada pembaca bahwa basic kemanusiaan yang baik dalam umat beragama yang berbeda merupakan kunci kemakmuran Negara. Amanat diatas bisa di peroleh tentunya dengan adanya beberapa aspek yang penulis sampaikan diatas tadi. pertama system pendidikan agama yang baik yang dibina dalam lingkup keluarga karena pendidikan dalam keluarga itu sangat penting akan terciptanya pergaulan anak dalam masyarakat luas terutama dengan yang berlainan agama, kedua perlunya sikap toleransi antar umat beragama dalam artian setiap umat beragama berhak memilh dan melakukan ritual agamanya masing-masing tanpa ada unsur paksaan dan gangguan dari pemeluk agama lain, ketiga perbedaan agama antar umat beragama merupakan sebuah keniscayaan yang ada dalam realitas masyarakat kita dan itu harus kita terima sebagai pluralitas keberagamaan di Negara kita ini dan terakhir kerukunan umat beragama, walaupun berbeda keyakinan kita tidak menutup kemungkinan untuk bersahabat, bekerjasama, berhubungan, berdagang, dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. Seperti yang disimbolkan si anak dengan sahabatnya Nadia walaupun berbeda keyakinan mereka selalu bersama-sama setiap saat.

DAFTAR PUSTAKA

Djoko Pradopo,Rachmat, 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik Dan Penerapannya. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.

Mahfudz, Najib. 1997. Maktabah usroh, Mesir: Mahrojana al-Qoria’h al-Jamia’ah

M. Atar semi, 1993. Metode Penelitiaan Sastra. Bandung; penerbit angsara.

Munawir, Achmad Warson. 1997. Kamus al-Munawir Arab-Indonesia. Surabaya; Pustaka Progresif.

Munthe, Bermawi. 2009. Makalah Tema Dalam Cerita Pendek Jannah Al-Atfal Karya Najb Mahfuz. Yogyakarta: Sekretariat Dosen Tetap UIN Sunan Kalijaga.

Ratna, Nyoman Khuta, 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitiaan Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Stanton, Robet. 2007. Teori Fiksi Robet Stanton. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

M. Ridwan Dosen UIN Jogyakarta.  Menelusuri Jejak Kesusastraan Arab Kontemporer http://carmenqymusshorn.narod.ru/stranicanomer61.htm

Umam Rejo. Ilmu-semiotik-html. http://umamrejoblogspot.com.

Catatan;

[1] Stanton, Robet. 2007. Teori Fiksi Robet Stanton. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.hlm 20

[2] Ridwan, M. Alur Kesusastraan Arab Modern. http://jurnalpenawordpress.com

[3] Pradopo, Rachmat, Djoko.1987.Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajahmada University Press. Hlm 121

[4] Umam Rejo. Ilmu-semiotik-html. http://umamrejoblogspot.com.

[5] M. Atar semi, 1993. Metode Penelitiaan Sastra. Bandung; penerbit angsara. Hlm 87

 [6] Najib Mahfuzd. 1997. Maktabah usroh, Mesir: Mahrojana al-Qoria’h al-Jamia’ah. Hlm 268

[7] Rachmat Djoko Pradopo, 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik Dan Penerapannya. Hlm 120

[8] Ibid, hlm. 267-268

[9] Rachmat Djoko Pradopo. Ibid. hlm 120

[10] Ibid. hlm. 267

[11] Ibid. hlm. 269-270

[12] Kamus Almunawir Arab-Indonesia. Hlm 265

[13] Ibid. hlm. 280

[14] Ibid. hlm.270

[15] Umam Rejo. Ilmu-semiotik-html. http://umamrejoblogspot.com.

[16] Ibid. hlm. 280

dikutip dari:  http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2011/03/ikonitas-piercean-dalam-cerpen-jannatul.html

Perihal ukonpurkonudin
ukon Purkonuddin sang Adib dari uin jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: