Teori Struktural Jean Peaget dalam Syair Umrul Qais

 1. Latarbelakang Masalah

Umrul Qais adalah penyair arab jahili yang hidup pada 150 tahun sebelum hijrah. Julukannya Al-Malik Ad Dhalil (raja dari segala raja penyair), penyair in berasal dari suku Kindah yang pernah berkuasa penuh di Yaman (Hadramaut). Ia merupakan pemuka para penyair jahili dan pemimpin mereka dalam pengembangan tehnik dan seni bersyair dalam berbagai macam cara.

Kiprah Umrul Qais dalam dunia sastra arab sebagai penyair sudah tak terbantahkan lagi dan tak perlu di pertanyakan kualitas-kualitas syairnya yang khas terutama dalam wasf (pelukisan/narasi), dalam menggambarkan sesuatu karena kekuatan daya khayal/imajinasinya yang tinggi. Itulah yang mengakar pada karya syair beliau yang diabadikan dalam syair mualaqotnya[1] yang akan peneliti bahas.

Sebagian besar ahli sastra Arab berpendapat bahwa puisi Umrul Qais dapat digolongkan pada kelas tertingi dari golongan penyair jahiliyah lainnya. Karena penyair ini banyak menyandarkan pada kekuatan daya khayalnya dan pengalamannya dalam mengembara, bahasanya sangat tinggi sekali dan isinya sangat padat. Umrul Qais dianggap orang pertama yang menciptakan cara menarik perhatian dengan jalan Istifokus Sohby yakni Cara mengajak orang untuk berhenti pada puing-puing reruntuhan bekas rumah kekasihnya (tempat yang berhubungan dengan kisah cinta) sekedar mengenang masa indah yang telah berlalu akan cintanya, atau kita lebih mengenalnya dengan istilah akhtal.

Memang cara ini sangat menarik sekali, bila digunakan dalam syair Tasbib/ghazal yaitu Suatu bentuk atau jenis syair yang didalamnya banyak menyebutkan wanita dan kecantikannya, syair ini juga menyebutkan tentang kekasih, memuji atau merayu sang kekasih, juga membahas tempat tinggalnya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kisah percintaan. Cara seperti ini sangat disenangi orang arab (penyair arab) dalam membuka setiap kasidahnya untuk mendapatkan perhatian orang. Dalam karyanya yang lain Umrul Qais dianggap sebagai penyair pertama dengan mensifati kecantikan seorang wanita dengan seekor kijang yang panjang lehernya, karena wanita yang panjang lehernya menandakan sebagai seorang wanita cantik dan rupawan, memeng perumpamaan yang sangat imajinatif ketika melihat hewan kijang yang indah di bandingkan dengan seorang perempuaan dan ini merupakan embrio kemunculunnya gaya bahasa majas dalam bahsa arab.

Orang yang mempelajari puisi karya Umrul Qais dengan mendalam, maka dia akan mengerti bahwa keindahan syairnya terletak pada caranya yang halus dalam syair ghazalnya. Ditambah dengan istirah/kata kiasan dan perumpamaan. Sehingga banyak orang beranggapan bahwa dialah yang menciptakan perumpamaan dalam syair Arab. Hanya saja kadang-kadang syairnya tidak luput dari perumpamaan yang cabul/porno terutama ketika membicarakan kaum wanita, tetapi perumpamaan ini tidak mengurangi nilai syairnya karena kadar kepornoannya tidak terlalu berlebihan. Disamping itu perumpamaan kepornoannya tersebut merupakan kebiasaan bagi setiap penyair Arab dalam mengekspresikan sesuatu secara singkat, jelas, dan padat pada masa itu.

Latarbelakang penciptaan syair Umrul Qais ini menceritakan pengalaman dan kehidupan pribadi sang penyair itu sendiri. Pengalaman disini adalah pengalaman yang menyakitkan dan mengiris hatinya seperti kandas cintanya dengan sang kekasih Unaizah, keluarganya dibunuh, dan kerajaan ayahnya runtuh oleh musuhmya, kalah dalam perang menuntut balas dendam kepada Bani Asaf, ditambah lagi karena penyakit yang ia derita dan akhirnya sampai sang maut menjemput di kota Angkara Turki Bizantium waktu ingin meminta bantuan kepada raja kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).

Pada proposal penelitiaan ini, peneliti akan menelaah salah satu syair Umrul Qais yang menunjukan kelihaian penyair ini dalam menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa dengan gayanya yang khas sehingga bayangan yang ada seperti benar-benar terjadi. Untuk itu peneliti akan mengutip syairnya Umrul Qais yang mengisahkan kepada kita tentang sesuatu kesusahan atau kegelisahan yang dialaminya pada suatu malam hari.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latarbelakang masalah diatas, dikemukakan bahwa permasalahan di dalam penelitiaan ini adalah membongkar unsure-unsur interistik apa saja yang terdapat di dalam syair Umrul Qais, yang di abadikan dalam kasidah muallaqotnya. Disamping itu syair ini menunjukan kelihaian penyair ini dalam menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa dengan gayanya yang khas sehingga bayangan yang ada seperti benar-benar terjadi apa adanya padahal itu murni muncul dari imajinasi penyair itu sendiri.

3. Tujuan Penelitian

Penelitiaan syair karya Umul Qais ini mempunyai dua tujuan yakni tujuan praktis dan teoritis. Tujuan praktis penelitiaan ini adalah membongkar habis unsur-unsur intristik pembangun dalam karya puisinya Umrul Qais dengan metode structural murni. Adapun tujuan teoritisnya adalah supaya pembaca mengetahui pesan-pesan apa sajakah yang dibawa si penyair ini (Umrul Qais) ketika syair ini sudah di bedah dengan pisau analisisnya yakni menggunakan teori strukural murni.

4. Tinjauaan Pustaka

Telaah pustaka dalam sebuah penelitian di gunakan/dilakukan untuk memastikan apakah objek penelitian yang sedang diteliti sudah di teliti atau banyak dibicarakan oleh peneliti lain, sehingga tidak terjadi pengulangan objek penelitiaan. Setahu penyusun, penyusun belum menemukan jenis penelitiaan apapun tentang syair jahili karya Umrul Qais ini. Menurut hemat penulis penelitiaan ini harus dan segera dilakukan agar kandungan teks didalamnya dapat diketahui oleh pembaca.

5. Landasan Teori

Strukturalisme dalam penelitiaan karya sastra, sering dipandang sebagai teori atau pendekataan. Hal ini pun tidak sepenuhnya salah karena baik pendekatan maupun teori sifatnya saling mengisi dan melengkapi dalam penelitiaan karya sastra. Pendekatan strukturaliame akan menjadi sisi pandang apa yang akan di ungkap melalui karya sastra, sedangkan teori adalah pisau analisis pembedah karya sastra tadi. Pada dasarnya strukturalisme merupakan cara berpikir tentang deskrifsi-deskrifsi struktur karya sastra, serta hubungan antar unsure pembangunnya tersebut yang saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Kodrat struktur tadi akan memiliki makna apabila dihubungkan dengan struktur lain, setiap struktur memiliki bagian yang kompleks sehingga pemaknaan harus diarahkan kedalam hubungan antar unsure secara keseluruhan. Keseluruhan (totalitas) akan lebih berarti dibandingkan bagian-bagian atau pragmen-pragmen struktur tersebut.

Teori struktural memandang karya sastra sebagai suatu struktur yang bulat dan utuh. Sebagai suatu struktur, unsur-unsurnya dapat dibongkar dan dipaparkan secermat, mendalam ketika menciptakan totalitas, serta dapat dicari keterjalinan semua unsurnya yang dipandang dapat menghasilkan makna menyeluruh.[2] Oleh Karena itu, setiap unsur karya sastra mempunyai potensi dan makna tertentu yang dapat dijadikan pendukung dalam membentuk struktur pembangun teks karya sastra.

Sebagai langkah awal penyusun/peneliti membedah puisi ini, diuraikan menggunakan kajian strukturalisme murni supaya diperoleh dengan jelas apa unsure interistik karya dalam membangun unsure teks atau syair tersebut. Konsep Teori strukturalisme murni yang paling pokok ditunjukan ialah peranan unsur-unsur dalam pembentuk totalitas, kaitannya secara fungsional diantara unsur-unsur tersebut, sehingga totalitas tidak dengan sendirinya sama dengan jumlah unsur -unsurnya. Menurut Jean Peagnet ada tiga dasar konsep strukturalisme:[3]

– Unsur kesatuaan bulat dan utuh, sebagai koherensi internal dan pembentuk totalitas dalam syair Umrul Qais ini. Artinya bagian-bagian /unsure-unsur yang membentuk struktur itu tidak dapat berdiri sendiri. Unsur yang satu dengan yang lain harus saling berhubungan atau saling kait mengait.

– Transformasi sebagai bentuk bahan-bahan baru secara terus menerus dan terjadinya saling keterkaitan antar unsur pembangun struktur karya tadi. Maksud struktur disini ialah struktur dinamis bukannya statis. Singkatnya struktur mampu melakukan transformasional, dalam arti bahan-bahan baru yang dapat di olah mellui prosedur-prosedur tersebut.

– Regulasi diri (self regulating) yakni mengadakan perubahan kekuaatan dari dalam dan unsur-unsur tadi saling mengatur dirinya sendiri. Artinya strukrur tidak perlu pertolongan dari luar dirinya, untuk mengesahkan prosedur transformasinya. Berdasarkan teori struktural diatas, seorang sastrawan/kritikus/peneliti dapat melakukan penelitiaannya dengan menggunakan metode tersebut, yang meliputi, struktur global, struktur fisk/luar dan mental/dalam.

6. Metode dan Tehnik Penelitiaan struktural

1. Jenis Penelitiaan

Penelitiaan ini termasuk kedalam penelitiaan bersifat library reaserch (penelitiaan kepustakaan) dengan menggunakan sumber-sumber data dari bahan-bahan tertulis dalam bentuk antologi seperti, buku-buku, majalah dan sumber-sumber refresnsi lainnya yang relevan dengan topic penelitiaan ini. Data penelitian tersebut terbagi dua bagian yakni:

a. Data Primer

Data primer adalah data yang terkait langsung dengan objek penelitiaan. Dalam hal ini adalah syairnya Umrul Qais dalam kasidah mualaqotnya.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang tidak terkait langsung dengan objek penelitiaan. Yang termasuk dalam data sekunder ini adalah buku-buku yang menopang dalam penelitiaan ini ter masuk beberapa kitab-kitab, yang lebih penting buku teori sastra, penelitiaannya maupun keritiknya yang menjadi alat pembedah karya sastra ini.

2. Pengumpulan dan Analisis Data

Penelitiaan ini merupakan kajiaan kepustakaan murni (Library reaserch), yakni menggunakan dan mengumpulkan data, baik primer maupun skunder. Yang termasuk dalam data primer adalah penulis menggunakan data syairnya Umrul Qais tadi, sedangkan data sekundernya semua jenis buku, bahan lain yang erkaitan dengan data primer tadi. Oleh karena untuk menganalisis itu semua yang dimanfaatkan adalah teori struktural, maka berinflikasi pada metode yang digunakan. Metode strukural merupakan suatu metode yang cara kerjanya membongkar secara struktural unsur-unsur interistik, yaitu denan cara mengungkapkan dan menguraikan unsur-unsur interistik ( inner strukture) di dalam syairnya umrul qais serta menghubungkan keterjalinan antar unsurnya.

Sementara itu, tekhnik yang dikerjakan untuk melaksanakan metode struktural tidak pernah dapat diumuskan dengan pasti. Oleh karena itu orang lebih cendrung bekerja dan melihat unsur-unsur yang penah ada dalam formalisme, yakni tokoh, plot, dan motif tambah tema dan bahasa. Dalam mengungkapkan dan menguraikan unsur-unsur karya sastra, metode struktural (dalam hal ini metode ungkap dan urai) secara teknis dapat bermula darimana saja. Namun demikian, ada sebagian fakar sastra yang melihat bahwa unsure-unsur yang pernah ada dalam formalisme itu sebagai unsur yang dipandang pasti dalam strukturalsme. Dalam kaitannya dengan analisis struktural syair Umrul Qais, peneliti mengambil teorinya jean Piaget tentang 3 konsep strukturalisme yakni; ide kesatuan (totalitas), ide saling terkait (transformasi), dan ide pengaturan diri (self regulation). Berdasarkan teori struktur tersebut seorang peneliti akan melakukan tahap analisisnya dengan menggunakan metode yang meliputi; struktur global, struktur pisik dan struktur mental.

3. Pendekatan

Struktural murni sering juga dinamakan sebagai pendekatan objektif, pendekatan formal, atau pendekaan analitik, bertolak dari asumsi dasar bahwa karya sastra sebagai karya kreatif memiiki otonomi penuh yang harus dilihat sebagai suatu sosok yang berdiri sendiri terlepas dari hal-hal lain yang berarda diluar struktur dirinya.[4] Bila hendak dikaji atau diteliti maka yang harus ditekankan pada unsure interistik tersebut adalah aspek struktur yang membangun karya sastra secara mandiri yang dilakukan secara objektif, dalam penelitiaan ini adalah syairnya Umrul Qais. Menurut nyoman[5] unsur unsur interistik pembangun puisi diantaranya sebagai berikut; tema, stalistika/gaya bahasa, imajinasi (khayal), ritme/irama, rima atau persajakan, diksi atau plihan kata, simbol, nada dan enjambemen. Semua unsur interistik tadi membangun sebuah hubungan harmonis antara aspek yang mampu membuatnya menjadi sebuah karya sastra. Hal-hal yang bersifat ekstrinstik seperti penulis, pembaca, atau lingkungan sosial budaya harus dikesampingkan, karena ia tidak mempunyai unsur keterkaitan langsung dengan struktur karya sastra tersebut yakni syairnya Umrul Qais.

7. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan proposal skripsi ini disajikan dalam 3 bab. Bab pertama yakni pendahulauan yang didalamnya terdapat 7 item yakni; latarbelakang masalah, rumusan masalah, tujuaan penelitiaan, tinjauaan pustaka, landasan teori, metode dan tehnik struktural, dan sistematika pembasan. Bab 2 yakni berisi analisis struktural jean piaget dalam kaya syairnya Umrul Qais. Dan bab terakhir bab 3 merupakan inti dari hasil penelitiaan yang telah dilakukan, yaitu berupa simpulan.

BAB II

ANALISIS STRUKTURAL JEAN PIAGET

TERHADAP PUISI UMRUL QAIS

Syair ini merupakan buah karya dari Al-Malik Adholil yakni Umrul Qais yang diabadikan dalam kasidah muallaqatnya, yang selalu dikenang, dan tak lupun dimakan zaman. peneliti akan mengutip syairnya beliau untuk di jadikan sampel penelitian proposal skripsi ini dengan menggunakan analisis struktural Jean Peaget. seorang sastrawan/kritikus/peneliti dapat melakukan penelitiaannya dengan menggunakan metode tersebut, yang meliputi, struktur global struktur fisk dan mental. Berikut ini adalah sampel puisi Umrul Qais yang akan di telaah:

وليل كموج البحر أرخى سدوله # علي بأنوع الهموم ليبتلى

فقلت له لما تمطى بصلبه # واردف اعجازا وناء بكلكل

اﻻايهاالليل الطويل اﻻ انجلى# بصبح وما اﻻء صباح منك بأمثل

فيا لك من ليل كان نجومه # بكل مغار الفتل شدت بيذ بل

 

Artinya: “ Malam bagaikan gelombang samudra yang menyelimutkan tirainya padaku, dengan kesedihan untuk membencanaiku, aku berkata padanya kala ia menggeliat merentang tulang punggungnya dan siap melompat menerkam mangsanya, wahai malam panjang kenapa engkau tidak segera beranjak pergi yang digantikan pagi yang tiada pagi seindah kamu, Oh… malam yang gemintangnya, bagaikan terjerat ikatan yang kuat.”

1. Analisis Struktur Global

Syair Umrul Qais diatas menunjukan dan membuktikan bahwa kelihaian penyair ini dalam menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa dengan gayanya yang khas sehingga bayangan yang ada seperti benar-benar terjadi. Untuk itu peneliti menjadikan syairnya Umrul Qais tersebut, yang mengisahkan kepada kita tentang sesuatu kesusahan atau kegelisahan yang dialaminya pada saat malam hari .

Sebenarnya penyair ini akan mengutarakan betapa malang nasibnya. Dimana keresahan hatinya akan bertambah susah bila malam hari tiba. Karena pada saat itu dia merasakan seolah-olah malam sangat itu panjang sekali. Umrul Qais mengemukakan keberadaannya yang sedang dilanda persoalan kehidupan dengan malam gelap gulita, tidak hanya berhenti dalam kegelapan malam, beliau menyerupakan malam itu dengan ombak yang penuh dengan kotoran, juga ingin menyampaikan kepada pembaca betapa persoalannya sangat rumit dan sulit sekali sehingga ia mengharapkan waktu pagi hari segera tiba, agar keresahannya akan berkurang, namun keresahan itu tidak jua berkurang walaupun pagi hari telah tiba. Contoh diatas merupakan bukti nyata akan kepandaian penyair ini dalam menggambarkan sesuatu keadaan. Sehingga keadaan atau peristiwa itu seakan-akan benar tejadi adanya. juga memberikan gambaran kepada kita, bagaimanakah penyair itu memberikan gambaran yang sangat besar akan keresahan melandanya dan dialaminya pada waktu itu, sehingga baik pada waktu malam hari maupun pagi hari keresahan itu tetap saja mengikutinya seperti seseorang yang selalu diikuti bayangannya ketika hendak menggerakan kakinya dalam sinaran bulan purnama di malam hari yang segelap lautan.

2. Analisis struktur Fisik dan Struktur Batin

Dari paparan struktur global syair Umrul Qais diatas, dapat kita rasakan struktur fisik dan dalamnya. Syair yang termasuk dalam lirik ini berusaha mencurahkan perasaan, imajinasi, pikiran dan mimpi penyair akan suasana hidupnya baik itu yang indah atau kepahitan hidup. Syair ini adalah syair yang abadi, tak lekang dimakan zaman karena imajinasi yang sangat kuat/daya khayalnya yang tinggi, katanya singkat tapi maknanya dalam, isi pada syair ini kondisonal/situasional yakni ketika seseorang dilanda problem, keresahan, kegelisahan, banyak masalah yang diderita, dan lainya. Ketika kita membaca dan mendalami, juga menghayati kandungan syair ini kita akan menemukan sesuatu kesamaan rasa, kesamaan konflik, atau penokohannya yakni si penyair itu sendiri. Karena seperti yang disebutkan peneliti diatas, penyair ini tidak menceritakan dengan pasti seperti apa konflik yang terjadi keresahan, problematika/masalah-masalah yang terjadi.

Keindahan syairnya terletak pada caranya pemilihan kata atau diksinya yang halus dalam syair ghazalnya. Walaupun hidup dalam keadaan geografis alam yang keras tetapi tak mempengaruhi kata-katanya yang halus dan lembut dalam syairnya itu. Ditambah dengan istirah/kata kiasan dan perumpamaan. Sehingga banyak orang beranggapan bahwa dialah penyair yang pertama yang menciptakan perumpamaan dalam syair Arab. Disamping itu, Umrul Qais menggunakan kata-kata yang sangat kental dengan persoalan problematika kehidupan وليل وهموم وابتلى,موج (ombak, malam, resah gelisah, menguji dll) pada diksi ini mengajak kita para pembaca bahwa persoalan yang dihadapi penyair merupakan persoalan yang rumit dan sulit.

Rahasia keindahan syair ini terletak pada maknanya yang ambigu yakni penyair tidak menjelaskan atau menceritakan keresahan yang dialaminya secara langsung. Bahkan Umrul Qais memberikan perumpamaan terlebih dahulu dan suatu permisalan yang dekat dengan pengertian aslinya, perumpamaannya tersebut biasanya bersifat naturalis dan memetis, yakni perumpamaan yang lazim, langsung dilihat dengan mata kepala mereka sendiri seperti bintang , malam ombak tadi yang sangat kental dengan problamatika kehidupan tadi.ini bisa dimaklumi bahwa pola piker kebanyakan bangsa arab saat itu sangatlah simple para penyair langsung memberikan suatu perumpamaan sesuai dengan apa yang dilihat secara kasat mata atau penglihatan mereka secara real, yang menjadikan cerminan kehidupan mereka sehari-hari baik dalam bertindak tutur atau melakukan apresiasi sastra. kemudian setelah itu penyair ini mengajak sang malam hari untuk berbicara dan bercakap-cakap layaknya seorang manusia yang hidup dab bisa berbicara untuk diajak bicara mengenai permasalahan hidupnya yang sulit tadi.

Dilihat dari stilistika/uslub (gaya bahasa) Umrul Qais menggunakan gaya bahasa tasybih yaitu menyerupakan sesuatu dengan yang lain karena ada sifat yang dimiliki keduanya. ليل (Musyabbah) diserupakan dengan موج البحر (musyabbah bih), ك (adat tasybih) dan wajhut tasybih tidak disebutkan secara eksplisit. Gaya bahasa seperti ini disebut dengan gaya bahasa tasybih mujmal yakni gaya bahasa tasbih yang tidak menyebutkan atau menafikan wajhu Shibhinya. sedangkan dari segi struktur atau tifografinya puisi ini terikat oleh wazan dan Qafiyahnya dan ini merupakan cirri khas dari puisi zaman jahili/kalsik tidak bebas seperti puisi modern sekarang.

Walapun terkadang syairnya mengandung sifat kebadwian dalam ungkapan kering dan kasar, dengan makna-makna yang seram. Tetapi imajinasinya sangat kuat sekali, kadang terlihat dalam membayangkan suatu yang keemasan dan penampilkanya indah sekali, maknanya memukau dan menusuk lerung hati yang paling dalam, tasbib/nasibnya (pelukisannya) lembut selembut kain sutra, wasfnya (pelukisan, narasi) akrab, seakrab orang arab yang menjamu tamunya, mudah diserap dan dipahami karena penciptaanya seindah-indahnya menggunakan imajinasi yang kuat. mungkian ada beberapa faktor mengapa tulisan syairnya Umrul Qais bisa seperti itu yakni karena keadaan geografis wilayah yang ganas, pergaulannya dengan suku badui yang cendrung kasar tapi mungkin positifnya ia bisa mempunyai daya imajinasi yang kuat dan bebas mungkin karena bergaul dengan mereka yang notabene orang-oarang yang pikirannya bebas. Kemudian yang terakhir keadaan psikologis dan sikis penyair ini pada masa usia masih beliau sudah mengalami guncangan yang cukup dahsyat, ia diusir dari surga dunianya yaitu istana ayahnya karena peringainya yang buruk.

Pesan yang ingin disampaikan penyair ini pada syair di atas kemungkinan tentang permasalah-permasalahan yang membelenggu/ mengikatnya seperti yang penulis utarakan yang membuat penyair ini resah, gelisah, bercakap-cakap dengan malam dan mengadu padanya untuk berubah jadi siang. Sehingga dapat diketahui bahwa tema dari puisi ini adalah keresahan, kegeisahan terhadap problematika kehidupan yang penyair ini rasakan dalam syair gahzalnya.

3. Hubungan Antar Struktur

Tujuan akhir analisis struktural ialah mengungkap makna teks sasta secara totalitas lewat unsur interistik yang membangun. Oleh karena itu dalam analisis struktural dalam syair karya sasatra yang terpenting adalah saling keterksitan dan adanya hubungan antar struktur sehingga fungsi unsur-unsur yang satu (unsur-unsur dominan dan fungsional) dengan unsur-unsur yang lainnya (unsur-unsung yang kurang dominan atau unsur yang kurang fungsional) secara koheren dan sinergis. Baik dari segi diksi dan struktur bahasanya yang mengandung pelukisan terhadap alam yang mempunyai makna simbolis yang negatif malam bagaikan ombak di definisikan sebagai masalah besar yang terjadi pada malam yang kotor ini berlanjut kepada peristiwa yang di paparkan penyair diatas berupa ratapannya terhadap masalah kehidupan bahwa masalahnya itu sangat tidak gampang ia berbicara kepada alam, malam dan sekitarnya membuktikan bahwa permasalahannya tidak bisa diselesaikan oleh sembarangan orang termasuk oleh penyair itu sendiri. Ratapan yang ia lahirkan merupakan sebah manifeso dari permasalahan yang ada yang melahirkan sebuah imajinasi yang kuat maka lahirlah sebuah teori dalam sastra arab;

الخيال وليد العاطفة

Imajinasi terlahir dari sebuah emosi

Imajinasi disini adalah sebuah gudang renungan ataupun segala benak permasalahan yang ada dalam benak penyair umrul Qais, ketika ia membuat syair ini. Segala permasalahannya yany ter amat sulit untuk di pecahkan ataupun pobrematika kehidupan penyair yang susah dan membuatnya resah seperti telah di uraikan diatas. Imajinasi penyair ini sangat kuat ketika memperumakan sesuatu dengan gaya tasbib dab istiarohnya seakan akan perumpamaan itu hidup dalam kata-kata dan bait-bait syairnya. Dari semua itu lahirlah emosi yang membara baik itu tertanam dalam bait syairnya umrul Qais ataupun dalam latar belakang penciptaanya syair ini yang telah dipaparkan sebelumnya. Emosi dan perasaan bercampur sangat kental dalam syair ini, dan merupakan sebuah replica kehidupan penyair yang tertuang dalam sebuah karya syair abadi, terusmenerus mempengaruhi penyair-penyair arab, dan tidak aneh banyak para ahli sastra arab menamainya dengan maliku adhalil raja dari segala raja penyair arab.

BAB III

SIMPULAN

Setelah syair karya Umrul Qais ini dianalis dengan metode struktural Jean Piaget sebagaimana telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa syair ini merupakan sebuah bentuk ratapan penyair terhadap masalah yang membelenggu dan problematika kehidupannya yang sangat sulit untuk di pecahkan, konsikuensinya maka timbulah rasa resah, tak tenang, dan gelisah. Siang malam tak ada bedanya karena hakikinya masalah itu selalu ada dalam lokus dan tepos yang ada pada perputaran bumi ini. Dalam penyampainya penyair ini mengadukan semua masalahnya dan membicarkanya pada malam, alam dan sekitarnya. Ini membuktikan bahwa ia beraliran naturalis karena penyair memisalkan atau membuat pelukisan, perbandingan dengan alam sekitar, yang tampak itu merupakan tren dan ciri khas dari syair jahili dan kalau melihat dari segi tema, atau makna pesan yang di ambil, puisi arab jahili melihatnya dari perparagraf bukan bait/baris seperti syair yang modern saat ini, karena bisasnya makna satu tipografi Cuma berbicara itu-itu saja seperti syairnya Umrul Qais diatas.

DAFTAR PUTAKA

Ali Al-Mudhar, Yunus dan H Bey, Arifin. 1983. Sejarah Kesustraan Arab, Surabaya: PT Bina Ilmu.

Al-Zauzini, Ahmad Ibn Al-Husain. Syarh Al-Muallaqot Al-Sabng’u. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.

Bunyamin Bahrum. 2003. Sastra Arab Jahili (Pra Islam), Terjemahan; Al-Adab Al-Arabiyah Al-Jahiliyah. Yogyakarta: Abad Perss.

H. Wargadinata, Wildana dan Fitriani, Laily. 2008. Sastra Arab dan Lintas Budaya. Malang: UIN Malang Press.

Muzakki, Ahmad. 2006. Kesusastraan Arab: Pengantar Teori dan Terapan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Idris Marjoko. 2007. Ilmu Balagah Antara Al-Bayan dan Al-Badi’, Yogyakarta: Teras

M. Atar semi, 1993. Metode Penelitiaan Sastra. Bandung; penerbit angsara.

Ratna, Nyoman Khuta, 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitiaan Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suroso dkk. 2009, Kritik sastra, teori metodologi dan aplikasi; Yogyakarta: Elmater Publishing.

Catatan;

[1] Muallaqot ialah syair-syair arab jahili yang terpilih yang digantungkan di ka’bah dan di tulis mengguanakan tinta emas. Muallaqot merupakan jenis perlombaan bersyair setiap satu tahun sekali biasanya berdekataan pada musim haji, di pasar ukadz. Hasil karya yang terpilih akan di gantungkan pada ka,bah dan ditulis tinta emas. Menurut Hammad Al-Rawiwah, para penyair muallqat ada tujuh orang yaitu: Umrul Qais, Zuhair, Tarfah, Antarah, Labid, Amru ibn Kulsum, dan Al-Haris ibn Hilza. Menurut pengarang kitab Jamharah ada tujuh orang juga, namun ia mengganti dua nama penyair yaitu Amru dan Antarah dengan A’sya dan Nabigah sampai pada masa Tabrizy ada sepuluh jumlah penyair muallaqat. Ia mensyarah syair-syair muallaqat dan menggabungkan kedua versi jumlah kedua penyair muallaqat terus ditambah stu menjadi sepuluh orang yakni: Umrul Qais, Nabighah, Zuhair, Tarfah, Antarah, Labid, Amru ibn Kulsum, Al-Haris ibn Hilza dan Abidul Abros. Pada tingkatan kualitas penyair arab jahili yang peneliti paparkan diatas umrul qais menempati posisi pertama maka tidak heran ia di sebut sebagai Al-Malik Ad Dhalil (raja dari segala raja penyair).

[2] Teeuw, 1984. Pengantar Teori Sastra. Hal. 135

[3] Ratna, Nyoman Khuta, Teori, Metode, dan Teknik Penelitiaan Sastra,. Hal. 84

[4] M. Atar semi, 1993. Metode Penelitiaan Sastra. Bandung; penerbit angsara. Hal 66

[5] Ratna, Nyoman Khuta. Teori, Metode, dan Teknik Penelitiaan Sastra, ibid. Hal. 93

Perihal ukonpurkonudin
ukon Purkonuddin sang Adib dari uin jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: