Kritik Feminis dalam Cerpen Lailatu Az-zafaf Li Taufik Hakim

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar belakang Masalah

Sastra merupakan segala aktivitas manusia atau prilakunya, baik yang berbentuk verbal maupun fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Aktifitas itu berupa fakta manusia yang melahirkan aktivitas social tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi cultural seperti filsafat, seni rupa, seni gerak, seni patung, seni music, seni sastra dan yang lainnya. Setiap kita hidup dan beraktivitas, kita tidak sadar bahwa sebenarnya dunia sastra sangat berkaitan erat dengan kita semua. Teuw pernah berpendapat bahwa sastra berada dalam urutan keempat setelah agama, filsafat, ilmu pengetahuan, sebagai disiplin ilmu ia menempati posisi keempat karena menurut hemat penulis ke empat bidang tersebut saling bertransformasi dan merugulasi diri (self regulating) bidang mereka masing masing.

Pengaruhnya jelas terasa hingga saat ini dan bangsa Arab menyebutnya miratul haya sebagai cerminan kehidupan mereka, bukan hanya itu dengan bersastra ia akan mengetahui rekaman sejarah kehidupan mereka pada masa lalu. Pada masa jahili sudah ada dan terdapat tradisi keilmuaan yang tinggi yakni bersyair dan penyair yang terkenal pada masa itu disebut dengan penyair mualaqat.[1]

 Seluruh hasil karya dari kesepuluh orang penyair itu semunya dianggap hasil karya syair yang terbaik dari karya syair yang pernah dihasilkan oleh bangsa Arab. Hasil syair karya mereka terkenal dengan sebutan Muallaqat. Dinamakan muallaqat (kalung perhiasan) karena indahnya puisi-puisi tersebut menyerupai perhiasan yang dikalungkan oleh seorang wanita. Sedangkan secara umum muallaqat mempunyai arti yang tergantung, sebab hasil karya syair yang paling indah dimasa itu, pasti digantungkan di sisi Ka’bah sebagai penghormatan bagi penyair atas hasil karyanya. Dan dari dinding Ka’bah inilah nantinya masyarakat umum akan mengetahuinya secara meluas, hingga nama penyair itu akan dikenal oleh segenap bangsa Arab secara kaffah dan turun temurun. Karena bangsa Arab sangat gemar dan menaruh perhatian besar terhadap syair, terutama yang paling terkenal pada masa itu. Seluruh hasil karya syair digantungkan pada dinding Ka’bah selain dikenal dengan sebutan Muallaqat juga disebut Muzahabah yaitu syair ditulis dengan tinta emas. Sebab setiap syair yang baik sebelum digantungkan pada dinding Ka’bah ditulis dengan tinta emas terlebih dahulu sebagai penghormatan terhadap penyair.

Kendati pada masa ini disebut masa jahili,[2] tetapi mereka mempunyai kebudayaan tinggi. Bersyair merupakan sebuah karya yang sangat orisinil bangsa Arab pada masa itu menjadi sumber hukum yang pertama. Baru setelah datangnya masa Islam semua itu berobah total. Islam sebagai rahmatan lil alamin dengan quran dan hadis sebagai sumber hukumnya, menyeru kepada kebaikan, menghormati sesama jenis, saling mencintai dan saling mengenal, yang bertitik beratkan kepada aspek moral yakni makarimal akhlak. Dari masa Rasuluah, Khufahurasidin, sampai keruntuhan Abasiah akibat ekspedisi Hulagukhan dengan berimbas berdirinya kerajaan mamluk di Turki (Konstantinopel) sastra Arab masih tetap bertahan kendati mengalami pasang surut pada dinasti keruntuhan Abasiah dan mamluk.[3]

Setelah hampir lima abad berada dalam masa surut bahkan keterpurukan di berbagai bidang, maka pada akhir abad ke-18 M bangsa Arab mulai memasuki fase sejarah “kesadaran dan kebangkitan.” Kesadaran ini semakin mendapat energinya setelah mereka bersentuhan dengan kebudayaan Barat melalui ekspedisi Napoleon Bonaparte ke Mesir pada tahun 1798.[4] Kesadaran dan tambahan energi itu lantas diimplementasikan di masa Muhammad Ali dengan cara mengirimkan banyak sarjana ke Barat. Penerjemahan berbagai karya asing Barat, baik tentang kesusastraan atau ilmu pengetahuan lainnya digalakkan dengan motor Rifa’ah Rafi’ al Tahtawy (1801-1873 M). Banyak percetakan dan penerbitan majalah atau surat kabar muncul. Dalam kondisi penuh semangat pembaharuan ini, kesusastraan Arab merangkak bangkit. Era baru kesusastraan modern pun dimulai.[5] Baru pada masa modern ini sastra Arab mulai berkembang karena girah dan kesadaran akan pentingnya khazanah peradaban yang di pelopori oleh Al-Barudi, Khalil Mutaran Ahmad Syauki dkk. Pada masa ini sudah terjadi transformasi intelektual dengan berpuncak pada revolusi Mesir.

Pada masa modern ini nalar para sastrawan Arab sudah mulai kritis mereka sudah mulai terbuka terhadap kebudayaan luar, terutama dalam menjawab realitas keadaan social mereka. Banyak sekali problematika yang masih konserfatif dan berbau jahili masih di pertahankan terutama dominasi kaum lelaki terhadap para kaum wanita sangat kuat. Ini menjalar terhadap berbagai aspek kehidupan disana. Perempuaan yang baik harus taat terhadap tradisi dan perintah suami, atau keluarganya walaupun apa yang ada dalam aturan itu nilai dan relefansinya sangat jauh dari nilai kebenaran yang diajarkan Islam. Misalnya satu saja masalah yang mencolok yakni pendidikan perempuaan di Mesir kurang di perhatikan itu yang menjadi imbas pertama yang menyebabkan harkat dan martabat perempuaan disana hanya berada di dalam kuasa laki-laki yang berhasil mendominasi berbagai aspek keidupan seperti politik, dokter, berdagang/bisnis dll. Semua itu merupakan masalah yang sangat krusial dan memungkingkan terjadinya bias gender. Tetapi menurut hemat penyusun masalah yang paling mendasar adalah dominasi adat istiadat yang membelenggu terutama terhadap kaum perempuaan. Disana kaum perempuan tak boleh keluar rumah tanpa seizing orang tua atau suami padahal hanya untuk masalah yang sepele. Perempuaan yang baik adalah perempuan yang tinggal dirumah bukan perempuaan yang sering bermain ketempat-tetangganya. Dan masih banyak sekali masalah perempuaan di Mesir ataupun dataran timur tengah yang mengalami hal semacam ini.

Ini jelas masalah marjinalisasi perempuan dalam tatanan hidup social-kulturalnya (femenimis) yang menjadi masalah bersama. bukan hanya masalah orang timur akan tetapi ini menjadi masalah orang barat juga, yang permasalahannya perlu perhatiaan dan penyelesaian bersama baik dari timur maupun barat. Dengan melihat latarbelakang kelahiran sejarahnya sebagai gerakan modern feminimisme lahir awal abad ke 20, yang di pelopori oleh Virginia woolf dalam bukunya yang berjudul A Room Of Ones Own (1929). Perkembangan yang pesat adalah sebagai salah satu aspek teori kebudayaan kontempoler terjadi pada tahun 1960-an. Model analisisnya sangat beragam sangat kontekstual, berkaitan dengan aspek-aspek social, politik, ekonomi. Maka dari ini di perlukan suatu kritik feminism untuk membedah problematika tersebut yangni kritik ini berkembang di Amerika pada tahun-tahun 1960-an, yang berdampak luas bukan hanya pada kaum perempuan saja, akan tetapi meluas ke seluruh masyarakat Amerika, yang akhirnya membuat masyarakat sadar akan kedudukan perempuan yang inferior.

Kesejarahan khusus dari munculnya kritik sastra feminis ini menurut Soenarjati,[6] dikarenakan adanya hasil survei di Amerika pada akhir tahun 1960-an yang mengungkapkan, bahwa kanon sastra di negeri itu- dengan hanya beberapa perkecualian- merupakan tulisan kaum laki-laki. Elaine Showalter[7] mengatakan, bahwa sejumlah besar bentuk sastra, kurun-kurun waktu, bahkan berabad-abad dalam sejarah sastra Amerika tidak menyinggung satupun penulis perempuan. Karenanya, salah satu kegiatan awal para pengkritik sastra feminis adalah menggali, mengkaji, serta menilai karya penulis-penulis perempuan dari masa-masa silam. Mereka mempertanyakan tolak ukur apa saja yang dipakai pengkritik sastra terdahulu sehingga kanon sastra di dominasi penulis laki-laki. Para pengkritik feminisme pertama juga berusaha menyediakan suatu konteks yang dapat mendukung penulis masa kini agar mereka mampu mengungkapkan pengalaman, perasaan, serta pikiran yang selama ini diredam.

Secara etimologi feminis berasal dari kata femme (women) berarti perempuaan (tunggal) yag bertujuaan untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuaan (jamak). Sebagai kelas social. Dalam hubngan ini perlu dibedakan antara male dan female yang ditentukan secara kodrati sebagai aspek perbedaan biologis dan sebagai hakikat ilmiah bisda dikatakan male dan female mengacu pada seks. Sedangkan maskulin dan feminine mengacu pada jenis kelamin atau gender sebagai he dan she dalam aspek perbedaan fsikologi dan kutlural. Juga sebagai hasil pengaturan kembali infrastruktur material dan super struktur idiologis, seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuaan tetapi menjadi perempuaan bukan sebagai perempuaan yang mempunyai konstruksi negatif, perempuaan sebagai makhluk takluk, perempuaan yang terjerat dalam dikotomi sentral narginal, superior inferior. Jadi tujuan feminis adalah keseimbangan dan interelasi gender. Dalam pengertiaan yang lebih luas adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala bentuk yang di marginalisasikan, disubordinasikan dan direndahkan oleh kebudayaan yang dominan, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, maupun pada kehidupan sosial pada umumnya. Dalam pengertiaan sastra cara-cara memahami karya sastra baik dalam kaitannya dengan proses produksi maupun resepsi. Emansioasi wanita dengan demikiaan merupakan slah satu aspek dengan kaitannya dengan persamaan hak (kesetaraan gender).[8]

 Penyusun melihat bahwa dalam membedah karya sastra dengan menggunakan pendekataan feminis lebih cendrung kepada keitik sosial kultural dimana ada sesosok perempuaan yang termarjinalkan, perempuaan makhluk lemah yang mempunyai anggapan negatif dalam berbagai aspek kehidupan dan itu yang membuaat ia terbelenggu dan perlu sebuah pendekatan yang baik dalam penyelesaiaan diskursus ini yakni dengan pendekatan kritik feminis.

Secara teori kritik ini menitik beratkan pada ilmu sastra, feminisme berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisis kepada perempuan. Jika selama ini dianggap dengan sendirinya bahwa yang mewakili pembaca dan pencipta dalam sastra Barat adalah laki-laki, kritik sastra feminis menunjukkan bahwa pembaca perempuan membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya. Prinsip dasar pandangan kritik feminis adalah untuk memahami suatu ilmu pengetahuan baru yang timbul karena adanya kmponen genus yang dari tidak kasat mata muncul menjadi kasat mata dalam berbagai wacana yang dihasilkan oleh bidang ilmu humanitas dan sosial.Yoder menyebutkan, bahwa kritik sastra feminis bukanlah berarti pengkritik perempuan, atau kritik tentang perempuan, atau kritik tentang pengarang perempuan; arti sederhana kritik sastra feminis adalah pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra dan kehidupan. Jenis kelamin inilah yang membuat banyak perbedaan di antara semuanya, yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada faktor luar yang mempengaruhi situasi karang-mengarang.[9]

Soenarjati memberikan keterangan lebih jauh, bahwa kajian wanita yang dikaitkan dengan kesusasteraan boleh dikatakan memiliki dua fokus. Di satu sisi terdapat sejumlah karya sastra tertentu, yaitu kanon, yang sudah diterima dan dipelajari dari generasi ke generasi secara tradisional. Di sisi lain terdapat seperangkat teori tentang karya itu sendiri, tentang apa itu sastra, bagaimana mengadakan pendekatan terhadap karya sastra, dan tentang watak serta pengalaman manusia yang ditulis dan dijelaskan dalam karya sastra. Dari sini juga kritik sastra feminis berawal, yaitu disebabkan oleh kenyataan bahwa baik kanon tradisional maupun pandangan tentang manusia dalam karya sastra pada umumnya, mencerminkan ketimpangan relasi jender.[10]

Dalam penelitiaan ini, kami penulis mencoba meneliti sebuah cerpen karya sastra rahasia malam pengantin (Lailatu Azzafaf) karya Taufik El Hakim dengan presfektif kritik feminis dapat mempokuskan kajiaan terhadap unsure teks yakni; karakter tokoh utama, kedudukan dan peran tokoh perempuaan dalam sastra. Ini dapat dilihat dari pemikiran atau prespektif tokoh dalam cerita dan dialog antar tokoh. terus Ketertinggalan kaum perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, pendidikan, kemasyarakatan. Ini merupakan sebab utama yang menjadikan perempuaan menjadi objek tertindas dalam aspek kehidupan, perempuaan terbelenggu oleh adatistiadat (budaya lokal) yang menyababkan ia menjadi sosok yang tersisihkan.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang masalah diatas sebagaimana yang telah dipaparkan, dalam proposal skripsi ini penyusun merumuskan dua rumusan masalah yang dianggap urgen yakni sebagai berikut:

1. Seperti apakah kedudukan dan peran tokoh perempuaan dalam cerpen Rahasia malam pengantin karya Taufik El Hakim ini?

2. Apa yang menjadi penyebab Ketertinggalan kaum perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, pendidikan, kemasyarakatan?

C. Tujuaan dan Manfaat Penelitiaan

Penelitiaan ini bertujuaan untuk membedah unsur feminis dalam sebuah cerpen karya sastra rahasia (Lailatu Azzafaf) malam pengantin karya Taufik el Hakim dengan presfektif kritik feminis. Agar dapat diperoleh suatu presfektif baru ketika kita memandang wanita, khususnya wanita Mesir sebagai makhluk tuhan yang bermartabat dan mempunyai hak yang sama dengan kaum adam

Manfaatnya bagi penyusun adalah penelitiaan ini diharapkan dapat memberikan konstribusi positif dalam pengkajiaan prespektif kritik feminis dalam karya satra arab.

D. Telaah Pustaka

Telaah pustaka dalam sebuah penelitian di gunakan/dilakukan untuk memastikan apakah objek penelitian yang sedang di teliti sudah di teliti atau banyak dibicarakan oleh peneliti lain, sehingga tidak terjadi pengulangan objek penelitiaan. Setahu penyusun, penyusun belum menemukan analisis kritik sastra presfektif feminis terhadap cerpennya Taufik Elhakim yang berjudul Rahasia malam pengantin (Lailatu Azzafaf). Menurut hemat penulis penelitiaan ini harus dan segera dilakukan agar kandungan teks didalamnya dapat diketahui oleh pembaca, terutama dalam prespektif feminis.

E. Landasan Teori

Sebagaimana telah dipaparkan dalam latarbelakang masalah tadi, bahwa masalah yang akan di teliti adalah prespektif kritik sastra feminisme dalam cerpen rahasia malam pengantin karya najib Taufik El Hakim. Seperti apakah kedudukan dan peran tokoh perempuaan dalam cerpen Rahasia malam pengantin karya Taufik El Hakim ini?..Apa yang menjadi penyebab Ketertinggalan kaum perempuan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat?.dan yang lebih penting adakah unsur ketertindasan terhadap kaum perempuaan disana?

Analisis dalam kejadian feminis hendaknya mampu mengungkap aspek-aspek ketertindasan wanita atas diri pria. Mengapa wanita pada posisi inferior. Stereotip bahwa wanita hanyalah pendamping laki-laki, menjadi tumpuan kajian feminisme. Dengan adanya perilaku politis tersebut, apakah wanita menerima secara sadar ataukah justru malah menghadapi ketidakadilan gender. Jika dianggap perlu, analisis peneliti harus sampai pada radikalisme perempuan dalam memperjuangkan persamaan hak.

Kritik ini berawal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita di masa silam dan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penukis-penulis pria, yang menampilkan wanita sebagai mahluk yang ditekan dan disalahtafsirkan oleh tradisi patriarkhal yang dominan.[11]

Dalam praktiknya, kritik sastra feminis diaplikasikan melalui penggunaan teori yang beragam yang intinya berperspektif feminis. Dari para pengkritik sastra feminis tersebut ada yang melalui penggunakan pendekatan struktural, lalu menganalisa tokoh-tokoh wanitanya dalam suatu karya sastra, ada yang menggunakan teori resepsi sastra, yaitu pendekatan pragmatisme dalam karya sastra, ada yang menggunakan teori semiotik dalam kaitannya dengan fungsi komunikasi sebuah karya sastra, ada juga yang menggunakan sistem eklektik yaitu paduan dari beberapa teori.

Dalam hal ini penulis meminjam teori struktural murni yang membongkar unsur interistik karya sastra dalam hal ini cerpen rahasia pengantin karya taufik hakim. Teori ini memandang karya sastra sebagai suatu struktur yang bulat dan utuh. Sebagai suatu struktur, unsur unsurnya dapat dibongkar dan dipaparkan secermat cermatnya juga semendalam mungkin yang menciptakan totalitas serta dapat dicari keterjalinan semua unsurnya yang dipandang dapat meng hasilkan makna menyeluruh.[12] Karena itu, setiap unsur karya sastra mempunyai potensi dan makna tertentu yang dapat dijadikan pendukung dalam membentuk struktur karya sastra.

F. Metode dan Tehnik Penelitiaan

1. Jenis Penelitiaan

Penelitiaan ini termasuk kedalam penelitiaan bersifat library resech (penelitiaan kepustakaan) dengan menggunakan sumber-sumber data dari bahan-bahan tertulis dalam bentuk antologi seperti, buku-buku, majalah dan sumber-sumber refresnsi lainnya yang relevan dengan topic penelitiaan ini. Data penelitian tersebut terbagi dua bagiaan yakni:

a. Data Primer

Data primer adalah data yang terkait langsung dengan objek penelitiaan. Dalam hal ini adalah cerpennya Taufik Al hakim yang berjudul rahasia malam pengantin (Lailatu Azzafaf).

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang tidak terkait langsung dengan objek penelitiaan. Yang termasuk dalam data sekunder ini adalah buku-buku yang menopang dalam penelitiaan ini ter masuk beberapa majalah/jurnal, yang lebih penting buku teori sastra, penelitiaannya maupun keritiknya yang menjadi alat pembedah karya sasra ini.

2. Pengumpulan dan Analisis Data

Penelitiaan ini merupakan kajiaan kepustakaan murni, yakni menggunakan dan mengumpulkan data, baik primer maupun skunder. Yang termasuk dalam data primer adalah penulis menggunakan data cerpenya Tafik al hakim yang berjudul rahasia malam pertama (Lailatu Azzafaf) yang menggunakan teori sastra feminis.

Sebagai langkah awal penyusun membedah cerpen ini diuraikan menggunakan kajian strukturalisme murni supaya diperoleh dengan jelas apa unsure interistik karya dalam membangun unsure teks atau cerpen tersebut. Konsep Teori strukturalisme murni yang paling pokok ditunjukan ialah peranan unsur-unsur dalam pembentuk totalitas, kaitannya secara fungsional diantara unsur-unsur tersebut, sehingga totalitas tidak dengan sendirinya sama dengan jumlah unsur -unsurnya. Menurut Jean Peagnet ada tiga dasar konsep strukturalisme:[13]

– Unsur kesatuaan sebagai koherensi internal dan pembentuk totalitas dalam cerpen ini

– Transformasi sebagai bentuk bahan-bahan baru secara terus menerus dan terjadinya saling keterkaitan antar unsur tadi spt tokoh, tema, plot, latar, dll

– Regulasi diri (self regulating) yakni mengadakan perubahan kekuaatan dari dalam dan unsur-unsur tadi saling mengatur dirinya sendiri.

3. Pendekatan

Dalam pendekatan penyusun menggunakan pendekatan kualitatif dalam menyusun data pada proposal ini dan untuk membedahnya penyusun menggunakan teori kritik sastra feminis Anglo Amerika menggunakan Pendekatan citra perempuan (images of women).

Dasar dalam melakukan penelitiaan sastra berprespektif feminis adalah upaya dalam pemahaman kedudukan dan kepahaman perempuaan seperti tercermin dalam karya sastra. Peran dan kedudukan perempuan tersebut akan menjadi sentral dalam pembahasan penelitiaan sastra. Peneliti bakan melihat dominasi laki-laki atau gerakan perempuaan.

Dan untuk terciptanya kesuksesan dalam penelitiaan tersebut. Penyusun menggunakan penelitiaan kritik femenis sastra memanfaatkan kajiaan kualitatif misalkan deskrifsi dalam cerpennya karya Taufik El Hakim yang judulnya rahasia malam pengantin (Lailatu Azzafaf), yang akan kita bedah menggunakan fisau analisis sastra feminis yang mendeskrifsikan setatus dan peranan perempuaan dalam keluarga, masyarakat dan lingkunganya. Data-data ini penulis akan dibahas secara proposional, artinya bukan diambil dari persfektif (sudut pandang) laki-laki melainkan diambil dari presfektif perempuaan. Kendati pengarang cerpen ini laki-laki tetapi penulis sangat lihai dalam memainkan alur, termasuk dalam mendeskrifsikan tokoh-tokoh. Yang menarik dalam cerpen ini adalah deskripsi dan hidupnya tokoh sentral yang bernama Saunah ini hidup oleh tokoh kedua yang menjadi lawan bicaranya yakni lelaki yang menjadi suaminya Saunah lewat dialog antar tokoh dan penafsiaan kisah yang hebat.

Dalam penelitiaan ini peneliti menggunakan presfektif reading as woman, membaca sebagai wanita. Singkatnya, peneliti dalam memahani karya sastra harus menggunakan kesadaran khusus yakni kesadaran multi gender yang berhubungan dengan masalah keyakinan, idiologi dan wawasan hidup. Kesadaran khusus peneliti untuk memahami karya sastra sangat perlu diperlukan. Perbedaan jenis kelamin akan mempengaruhi pemaknaan cipta sastra. Sejalan dengan kodratnya, teks sastra yang dilahirkan pengarang laki-laki dan wanita memang sering berbeda. Keduanya akan sangat kental dalam perjuangan terhadap nasib/hal masing-masing. Itulah sebabnya, kondisi ini telah memunculkan pemahaman penelitiaan sastra yang orientasinya ke arah perjuangan hak.

Menurut Culler, dengan berpijak pada konsep “pembaca perempuan”, pendekatan ini lebih menekankan pada kesinambungan antara pengalaman perempuan mengenai struktur keluarga/sosial dan pengalaman mereka sebagai pembaca. Kritik sastra feminis yang berpegang pada postulat ini lebih tertarik pada situasi dan psikologi tokoh-tokoh perempuan. Mereka menelusuri sikap-sikap terhadap perempuan atau “citra-citra perempuan” di dalam karya-karya seorang pengarang, sebuah genre, atau satu periode tertentu Kritik sastra yang demikian ini yang dikarenakan fokusnya pada perempuan sebagai suatu tema dalam karya sastra, maka menjadi sangat tematis, termasuk juga dalam ketertarikannya atas pengalaman para pembaca sastra maupun non-sastra. Dalam pendekatan ini, tindakan membaca dipandang sebagai sebentuk komunikasi antara pengalaman/kehidupan pembaca dan pengalaman/kehidupan pengarang. Apabila pembaca ini kemudian menjadi kritikus, maka yang ia kerjakan adalah memberi penilaian terhadap pengalaman tersebut sehingga memungkinkan para pembaca selanjutnya menjadi sadar akan posisi yang diambilnya.[14]

“Perempuan” di dalam karya sastra yang ditulis lelaki, pada umumnya berperan sebagai Yang Lain, sebagai objek kepentingan, hanya sejauh mereka melayani atau menopang kehendak dari protagonis lelakinya. Oleh karena itu, asumsi utama yang mesti dipegang teguh oleh pendekatan “citra perempuan” ini adalah ‘penilaian atas autentisitas tokoh-tokoh perempuannya’. Autentisitas tersebut dapat diukur berdasarkan sejauh mana seorang individu memiliki kesadaran kritis yang self-defined, sebagaimana ia dapat dipertentangkan dengan identitas stereotipe atau yang diproduksi secara massal.

Sebagai suatu penilaian terhadap autentisitas tokoh-tokoh, ia dibangun berdasarkan pada pertanyaan: apakah si tokoh memiliki kesadaran kritis/reflektif seagai agen moral yang mampu bertindak atas keputusan diri-sendiri? Dengan kata lain, apakah dia merupakan Diri (Self), bukan Yang Lain?. Penilaian ini memungkinkan kritikus sastra feminis untuk menentukan tingkat pengendalian ideologi yang seksis terhadap teks. Ideologi ini niscaya mendukung konsep tentang perempuan sebagai objek atau perempuan sebagai Yang Lain.

Upaya penelitiaan demikiaan lalu memunculkan teori pengkajiaan feminimisme sastra. Dari sini kajiaan sastra feminis akan di tunjukkan kedalan dua arah yakni:

1. Bagaimana pandangan laki-laki terhadap wanita

2. Bagaimana sikap wanita dalam membatasi dirinya.

Keduanya ini akan bertransformasi dan saling beregulasi diri kedalam teks sastra yang berhubungan terjadi kaitan erat dengan budaya masing-masing wilayah. gabaran dua sasaran itu menurut Selden dapat digolongkan menjadi lima focus:

1. Biologi, yang sering menempatkan perempuaan lebih infireor, lembut, lemah dan rendah.

2. Pengalaman, seringkali wanita hanya memiliki pengalaman terbatas, masalah menstruasi, melahirkan, menyusui, dan seterusnya.

3. Wacana, biasanya wanita lebih rendah penguasaan bahasa, sedangkan laki-laki memiliki “tutuntan kuat”. Akiibat dari semua ini, akan menimbulkan setereotip yang negative pada diri wanita, wanita sekedar wanca wingking.

4. Proses ketidaksadaran, secara diam-diam penulis feminis telah meruntuhkan otoritas laki-laki. Sekaligus wanita bersifat revolusioner, subversive, beragam, dan terbuka. Namun demikian, hal ini masih kurang disadari oleh laki-laki.

5. Pengarang feminis biasanya sering menghadirkan tuntunan sosial dan ekonomi yang berbeda dengan laki-laki. Dari berbagai focus tersebut, peneliti sastra berhaluan feminis dapat memusat pad beberapa pilihan saja agar lebih mendalam.

G. Sistematika Pembahasan

Agar penelitiaan ini lebih ter arah dan sistematis, maka penyusun mengangap perlu untuk memaparkan gambaran umum tentang tahapan-tahapan penelitiaan dengan sistematika sebagai berikit:

Bab pertama merupakan pendahuluaan yang menjelaskan mengaa penyusun memilih tema pada penelitiaan ini, serta gambaran umum mengenai proses penelitiaan yang penyusun lakukan. Untuk menjelaskan hal tersebut, penulis membagi bab ini kedalam beberapa bagia yakni; Latarbelakang Masalah Penelitian, rumusan masalah, tujuaan dan manfaat penelitiaan, telaah pustaka, metode yang digunakan dalam penelitiaan dan diakhiri dengan sistematika pembahasan penelitiaan.

Selanjutnya pada bab kedua penyusun akan menelaah karya sastra cerpen rahasia malam pengantin terjemahan dari karya cerpen Taufik El Hakim ini dengan menggunakan pisau analisa teori kritik sastra feminis Anglo Amerika menggunakan Pendekatan citra perempuan (images of women).

Pada bab ketiga ini penyusun memaparkan sedikitnya biografi tokoh penulis cerpen tersebut supaya di peroleh gambaran jelas ketika ia menyusun cerpen tersebut seperti apa dan yang lebih penting adalah pemikirannya (fikrah) dalam menulis karya sastra apakah ia termasuk pro terhadap feminism atau sebaliknya. Dan yang lebih mendasar lagi apa asumsi tokoh ini ketika memandang wanita terhadap karyanya yang dituangkan dalam cerpen rahasia malam pertama ini (Lailatu Azzafaf). Pada bab ter akhir bab ke 4 yakni simpulan inti dari hasil penelitiaan yang dilakukan peneliti terhadap cerpen tersebut.

BAB 2

BIOGRAFI PENULIS

  • Biografi Taufik Al Hakim

Tokoh satrawan modern Arab ini lahir di Alexandri Mesir pada tahun 1898. Ia keturunan Indo Arab/Arab-Turki dari keturunan keluarga petani kaya. Ayahnya bekerja sebagai hakim pada usia 7 th Taufik Hakim dimasukan ayahnya ke sekolah dasar di Damanhur. Ia sangat di jaga ketat secara protektif oleh ibunya tidak boleh keluar rumah sembarangan pergaulanya sangat dijaga saat itu. Sehingga tidak aneh bahwa Taufik Al-Hakim kecil berusaha membebaskan diri dari penjagaan ibunya yang terlalu protektif yang ia sangka terlalu berlebihann mengucilkannya dari kehidupan luar rumah. Akan tetapi ia tidak bisa berbuat banyak untuk itu semua. Setamat SD ia dikirim ayahnya ke Kairo untuk melanjutkan sekolah menengah dan tinggal bersama kedua orang pamannya. Yang menjadi guru SD dan Dosen pada jurusan tekhnik. Semenjak di kairo inilah ia mendapatkan kebebasan penuh dari otoritas ibunya.

Di sala-sela menyelesaikan kegiatan sekolah menengahnya. Ia mendalami seni suara ia mendalami seni vocal dan olah suara, seni music yang kemudian mengantarkannya pada seni teater. Lulus dari sekolah menengah, Taufik Hakim melanjutkan studinya di sekolah tinggi ilmu hukum. Sementara bakat dan kepiawannya dalam sastra mulai tumbuh dalam hati dan pikirannya. Iapun kemudiaan bergabung dengan para seniman muda sebayanya, diantaranya dengan Mahmud Taimur. Pada tahun 1922, ia sudah memulai menyusun beberapa naskah drama yang sudah di pentaskan oleh grup teater Nukaysah di gedung teater Al-Azbekiyah. Naskah drama yang muali dipentaskan diantaranya Al mara’ah al-jadidah, al aris dan khatam sulaiman. Naskah tersebut tidak di terbitkan. Hal ini menunjukan bahwa karya-karya tersebut masih dianggapnya masih belum sempurna. Walaupun sebagai peletak dasar drama Mesir modern. Dialah tokoh sastra arab pertama yang menjadikan peletak dasar atas drama sebagai genre sastra di dunia arab.

Pada tahun 1924 M Taufik Hakim menyelesaikan studi pada sekolah tinggi hukum. Ia meminta pada ayahnya agar di izinkan pergi ke Francis dengan alasan unmtuk melanjutkan study hukum. Ayahnya sangat senang dan menyetujui keinginannya. Akan tetapi, selama 4 th berada di Faris ia tidak sedikitpun belajar tentang hukum. Selama ia tinggal di Paris ia gunakan untuk membaca novel sebanyak-banyaknya belajar teater berpuisi dan segala sesuatu yang mempunyai hubungan dengan dunia sastra Francis yang ia anggap aneh dan tidak ada di Arab. Ia sangat menyukai music terutama music yang berasal dari barat seluruh waktunya ia habiskan menonton teater, pertunjukan music dan memperdalami kesustraan Eropa mentelaahnya dengan membaca banyak buku kesusatraan sehingga ia berkesimpulan bahwa Francis merupakan kebudayaan terbesar Eropa yang bangkit dan terinspirasi dari kebudayaan Yunani Klasik yang pernah menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban dunia.

Pada tahun 1928 ia kembali ke Mesir dan bekerja sebagai DPR sampai tahun 1934 kemudiaan ia menjadi direktur pelaksana pada departemen pendidikan dan pengajaran sampai th 1939. Lalu ia berpindah ke depertemen sosial dengan jabatan sebagai direktur pada departemen pelayanan sosial. Meski sibuk dengan kegiatan yang berjkaiatan dengan jabatannya, ia masih aktif menulis, baik cerpen, novel, maupun naskah drama.Pekerjaannya sebagai anggota senat dan seringnya mengunjungi daerah daerah dan perkampungan-perkampungan melahirkan sebuah karya catatan harian yang berjudul Yaumat An Anjib Fi Al Aryaaf.

Dalam karyanya ketika beliau menulis atau memandang perempuaan, Taufiq al-Hakim pernah diberi gelar “musuh perempuan”. Dalam hal ini, ia mengembangkan pikiran yang sangat mirip dengan al-Akkad meskipun ada perbedaan dalam detailnya. Dalam karyanya ar-Rabath al-Muqaddas, al-Hakim memotret perempuan yang memberontak melawan hidupnya. Akan tetapi pemberontakan ini tidak didasarkan atas ambisi keintelektualannya atau keinginannya untuk melakukan sesuatu yang punya nilai kemanfaatan dalam hidupnya, namun lebih sebagai pengisi kekosongan emosional dengan hal-hal yang menyusahkan. Digambarkan pula, bahwa perempuan tidak memiliki keyakinan agama yang memadahi, sedang sifat kepatuhan yang dimilikinya hanya bersifat “hal-hal naluriah yang rendah”. Thaha Hussein, dalam karyanya Do’a al-Karawan menggambarkan sikap konvensionalnya terhadap kehormatan, dengan pembunuhan gadis kecil. Dalam novelnya penulis berkata tentang perempuan; bahwa mereka adalah noda yang harus dihilangkan, kehormatan harus di jaga, dan ard (kehormatan kaum laki-laki di tengah para wanitanya) harus tetap utuh.[15]

Bila melihat secara sekilas penyusun kira wajar Taufik El Hakim dalam esensi karyanya terpengaruhi Aqad karena mereka sama-sama mempunyai kesamaan visi dalam memajukan kesusastraan Arab aqad lebih cendrung kepada tokoh sastra beraliran neokalisik yang merintis berdirinya Madrasah Diwan. Sedangkan Taufik Al Hakim lebih konsisten dalam menciptakan karya sastranya yang inovatif, ia membawa kebudayaan Francis dan mengakulrturasikan kebudayaan itu dengan kebudayaan arab terutama dalam karya sastra seperti karya novel pigmalion mitologi Yunani klasik. Ia berhasil meramunya kedalam kultus dan kebudayaan bangsa Arab sehingga menciptaka aroma mabaru dalam karya sastra arab. Ada sebagaian isu bahwa peraih hadiah nobel sastrawan pada waktu itu bukanlah Najib Mahfud melainkan Taufik Al Hakim Karena saat itu Taufik Hakim kurang komunikasi dengan para sastrawan yang ada di Eropa terutama Yahudi yang mendominasi Peraih Nobel dunia. Disamping itu dalam karyanya Taufk El Hakim terlalu menekankan aspek nasionalismenya yakni memperkenalkan kebudayaan arab dengan gaya klasik terlihat terlalu monoton dan terkadang dalam pemikiran tokoh atau idiologi yang di bangun terlalu konservatif terutama ketika menulis atau memandang wanita sesuai dengan fakta wanita mesir yang ada disana itu terlihat jelas dalam cerpen yang penulis bahas yakni cerpen rahasia malam pengantin (Lailatu Azzafaf) Beda halnya dengan najib mahfub ia menawarkan gagasan yang baru tentang wacana idologi dalam novel tujuannya sama memperkenaal kan kebudayaan mesir akan tetapi ia menawarkan multikulturalisme dalam tulisannya sehingga dapat di terima oleh semua kalangan baik eropa (barat) maupun timur maka dari itulah hadiah nobel jatuh ketangan najib mahfud.

BAB 3

ANALISIS CERPEN RAHASIA MALAM PENGANTIN (Lailatu Azzafaf)

FRESREKTIF KARYA FEMINIS ANGLO AMERIKA

PENDEKATAN IMAGE OF WOMEN

Perempuan itu tidak bergeming sedikitpun. Sang suami tidak bias melihat isyarat kegundahan, sebab wajah istrinya berbalut duka yang disembunyikan. Walau demikiaan ia dengan jelas bias melihat deraian air mata yang menetes di kedua pipi, diantara dua celah jari jemari tangan. Menerpa gaun putih yang digunakan.

Dalam kutipan cerpen malam pengantin karya Taufik El Hakim diatas merupakan awal dari masalah ataupun latar belakang masalah yang nantinya memunculkan komflik-konflik yang membuat cerpen ini hidup. Penyusun melihat adanya unsur faksan ataupun marjinalisasi terhadap tokoh perempuaan yakni saunah oleh unsure unsure pembangun cerpen ini yang menyebabkan ia menangis, air matanya berderai karena terjadi kawin faksa yakni ibunya menjodohkannya dengan lelaki yang beliau pilih untuknya padahal ia sudah memiliki tambatan hati.

Kutipan yang lebih lugas lagi sebagai berikut:

Pernikahan ini harus tetap berlangsung semata-mata untuk menyenangkan hati ibu, “jawab saunah.” Setiap kali aku meminta untuk menggagalkan pertunangan kita, aku melihat ibu sebagai sosok yang paling berduka.

Asal engkau tahu saja, satu-satunya harapan dan impian ibu hanyalah ingin melihatku brsanding dengan lelaki sepertimu. Aku pun luluh dan tidak berani menghancurkan keinginannya. Ia seorang perempuan tua yang sering sakit-sakitan. Allah maha tahu seberapa besar keinginanku untuk menyembunyikan rasa cintaku pada lelaki yang aku cintai. Dia juga tahu bagaimana aku berusaha menyadari bahwa masa lalu akan segera berakhir dengan pernikahan kita. Terkadang aku berpikir harus bisa mengesampingkan suara hati untuk menyambut panggilan akal. Tetapi dimalam ini semua terasa telah menumpuk. Semua sudah terjadi. Jiwaku memberontak seakan hendak menghancurkan semuanya. Aku tidak membohongi kata hatiku dan aku tidak rela harus menipumu. “saunah mengungkapkan isi hatinya diantara isak nangis”.

Dalam kutipan diatas sudah jelas bahwa perempuan kondisinya termarjinalkan dengan adanya kawin paksa oleh ibunya seperti pada kutipan pertama diatas . Saunah dipaksa nikah oleh ibunya karena faktor terntentu dari sosiol-kulturalnya, walaupun Saunah tidak mengetahui lelaki itu dan dia tidak mencintainya. Perempuan dalam cerpen ini Saunah dianggap sebagai tokoh feminis karena ada aspek yang tertindas dan menindas walau tidak tampak secara real. Aspek yang tertindas ini sudah jalas Saunah, dan yang menindas ini adalah adat budaya lokal (sosio kultural) yakni kawin faksa/ di jodohkan oleh ibunya. latar pada cerpen ini kebanyakan penceritaannya pada malam hari sedangkan tempatnya tersebut yakni dikawasan kampung Abbasiyah. Saunah dalam karakter cerpen ini bukanlah sebagai tokoh feminis pendombrak emansipasi wanita ataupun tokoh penggerak yang reaktif seperti tokoh-tokoh/ karakter-karakter tokoh pada novel karya Indonesia seperti novel layar terkembang karya Sultan Takdir Alisabana, novel siti nurbaya karya Marah Rusli dll, yang notabene sebagai tokoh utama dalam cerita karakter pemikirannya bisa dilihat atau ditinjau dari berbagai perspektif.

Saunah dalam cerpen karya Taufik El-Hakim hanya sebagai tokoh perempuan biasa yang tertindas oleh budaya lokal (kawin faksa), seperti perempuan lainnya yang tidak bisa melawan/penggerak emansipasi wanita. Pada cerpen ini karakter Saunah hidup oleh tokoh kedua sebagai lawan pembicaranya, yakni seorang lelaki yang menikahinya, lelaki ini menurut Lucian Goldman sebagai hero,[1] yang dalam alur cerita ini menjadikan klimaks dan anti klimaks sebagai totonan yang menarik untuk disimak menurut penyusun mengapa tokoh lelaki atau saunah ini tidak disebutkan bisa jadi sebagai hero ia tidak benama ada imbuhan seorang pahlawan itu menolong tanpa tanda jasa, atau juga seorang lelaki ini seorang tokoh feminis dalam cerpen ini karena melihat penulis adalah seorang lelaki, lebih lanjut penyusun melihat dari sosiokultural keadaan wilayah arab pada umumnya yang memberi kebebebasan lelaki untuk bergerak dan perempuaan sangat dibatasi ruang lingkup pergerakannya. Penulis cerpen ini meminjam tokoh lelaki sebagai pengerak untuk menolong tokoh perempuaan (Saunah) yang termarjinalkan makanya di sebut Hero. Cerita Saunah hanya muncul diawal dan diakhir secara real dalam teks cerpen tresebut. ini membuktikan dominasi kaum lelaki masih kuat dan ini menjadi kritik sosial terhadap kultus dan kehidupan sosial masyarakat disana.

Sedangkan dari dialog antar tokoh dapat dilihat sebagai berikut:

Si lelaki tersandar kalau ia harus senantiasa memperlihatkan perangai buruk dihadapan ibu mertuanya. “apa? Aku harus keluar dan bergandengan tangan putrimu?” katanya dengan nada tinggi.

“memangnya kenapa? Apa salahnya? Bukankah sesuatu yang teramat indah kalau seorang suami memanjakan seorang istri?”

“itu katamu,” jawab si lelaki ketus.

“jangan begitu, anakku,”pinta sang ibu mertua.

“pokoknya aku tidak punya waktu”!

 

Bersamaan dengan itu ,wajah Saunah merah terbakar amarah. “tetapi engkau selalu meluangkan waktu untuk begadang semalaman hingga pulang larut malam?” timpal saunah kecewa.

“itu hakku1 apa urusanmu, apakah kau ingin mengaturku? Asalka engkau tahu saja, aku sama sekali tidak akan pernah keluar dan berjalan perempuan itu bersamamu. Sama sekali tidak!” lanjut si lelaki.

Serta merta saunah membalikkan tubuhnya dan berlari masuk ke kamar.sang ibu segera menyusul. Beberapa kali pintu kamar diketuk, tetapi tidak ada jawaban. Hatinya benar-benar terluka ibarat teriris sembilu.

Sementara si lelaki keluar begitu saja tanpa mengindahkan mereka berdua. Seperti tidak ada beban yang mesti ditanggung. Hebat! Ia benar-benar lihai bersandiwara, seperti seorang dramawan meninggalkan panggung. Bahkan saunah pun ikut terkecoh oleh sikapnya. Perempuan itu benar-benar merasa terpukul tanpa menyadari bahwa itu hanya sandiwara.

Ini merupakan puncak klimaks dari cerita/kuipan cerpen ini. Kita bisa melihat idologi Saunah sebagai tokoh utama dan Sang lelaki yakni suaminya sendiri sebagai tokoh kedua yakni yang menjadi lawan bicara/adegan dalam cerpen ini. Idologi atau pemikiran Saunah tidak terlalu spesial, sama seperti perempuan lainnya ia lebih mengedepankan perasaannya ketimbang akal sehatnya (rasional). Ia tidak sadar bahwa perkawinannya ini hanyalah sandiwara. Itu hanyalah sebuah ekting belaka dalam panggung sandiwara, Saunah sendiri yang meminta dan menanis tersendu untuk melakukan perjanjiaan sandiwara ini karena ia telah mempunyai tambatan hati. Akan tetapi ia malah terjebak dalam wacananya sendiri ia tidak sadar dengan merah padam mukanya dan berlari menuju pintu kamar dan menguncinya dari dalam secara rapat-rapat itu jelas membuktikan tipekal perempuaan/tokoh utama ini terjebak dengan wacana dan kelogisan yang ia bangun dari kesepakatan suaminya seharusnya ia bersikap proposional dan mengerti situasi dan kondisinya bahwa ia sedang bersandiwara di depan ibunya. Menginagt ia telah melakukan kesepakatan dengan suaminya itu.

Sedangkan si lelaki yang menjadi suaminya ini kelihatan sudah matang dan dewasa sekali melihat unurnya sudah 36 tahun. ia sudah siap lahir batin baik dalam berumahtangga dan mencari nafkah. Ia merupakan lelaki yang terhormat ia rela mengorbankan moral dan nama baiknya untuk wanita yang ia cintai. Kesehariaannya hidup ia pergi pagi hari dan pulang malam hari itu semua untuk menjatuhkan martabatnya didepan mertuanya, bahkan masyarakat, ia pada malam harinya selalu pergi kepesta-pesta bahkan pulang sampai tengah malam untuk menumbuhkan imej buruk pada dirinya terhadap mertuanya. Tapi si lelaki ini juga punya kelemahan yang sama juga dengan lelaki lainnya yakni egonya tinggi apalagi saat ia berhadapan dengan perempuaan (Saunah) seperti kutipan di bawah ini:

“Bukankah sudah kukatakan bahwa aku dapat melihat nasib dan keperuntunganku”

Kutipan itu diambil saat cerita pengundian siapa yang tidur ditempat tidur dan dilantai setelah malam pengantin mereka gagal/tertunda, terus mereka melakukan kesepakatan untuk bersandiwara didepan ibunya supaya dengan harap ibu saunah benci dan menyuruh saunah untuk minta talak. Saunalah yang menang dan lelaki itu bersikap seperti orang yang terhormat dan bijaksana padahal ada kekesalan yang tersirat dalam dadanya. Terus yang paling menarik adalah ada tidak kekerasan dalam cerita ini, yang menyebabkan tokoh perempuan termarginalkan. menurut hemat penyusun ada yakni dengan seenaknya si lelaki itu memarahi ibunya dengan sepontan dan membentak dia didepan Saunah, kendati itu hanya sandiwara penyusun melihatnya itu sebagai kekerasan psikis pada Saunah yang dilakukan oleh suaminya itu. Kalau ia ingin melihatkan kejelekannya marahi saja ibunya bukan didepan Saunah. Ia si lelaki tidak sadar mungkin karena egonya yang tinggi dan tidak sabaran bahwa setiap wanita akan luluh ketika ia berhadapan dengan ibunya bahkan kaum adam pun demikiaan.

Terus faktor ada faktor lain yang menurut penulis mengapa tokoh utama saunah ini termarjinalkan, coba lihat kutipan teks dibawah ini:

“Kutahu engkau tidak bisa memaafkan diriku. “Kata saunah.” Dan barangkali engkau memberikanku hukuman. Tapi percayalah bahwa cintaku kepada lelaki itu hanyalah cinta monyet, cinta anak ingusan. Kami belum mengenal hakikat cinta sesungguhnya. Aku tidak sepenuhnya berbohong. Tetapi aku percaya bahwa engkau dapat memahami keadaanku.”

Inilah faktor lain tersebut yang penulis maksud. Tokoh saunah ini kendati usianya cukup matang untuk menikah dalam teks itu usianya sepuluh tahun lebih muda dari dia. ketika ia bandingkan dengan cinta monyetnya Saunah. Tetapi Saunah sendiri belum dewasa/matang dalam berumahtangga dan ini yang menjadi riskan dan masalah lain bermunculan dalam cerpen ini, mungkin in faktor pendidikan perempuaan yang lemah yang ditonjolkan Taufik El Hakim ini sebagai keritik sosial pada pemerintahan/masyarakat pada umumnya. masalah pendidikan perempuaan perlu di perhatikan apalagi saat ia akan menikah minimal ia akan jadi pemimpin untuk anak-anaknya kelak dalam keluarganaya, terus sosioultural dengan masyarakat harus dibangun dan dijaga perempuaan yang baik menurut daerah dan kebudayaan itu bagaimana itu jua perlu diperhatikan dan ujung-ujungnya menurut hemat penulis berpangkal dari pendidikan perempuaan tersebut secara totalitas tetapi di presfektif lain penyusun melihat bahwa ada suatu keberaniaan yang muncul ketika saat terakhir cerpen ini ia mengungkapkan segala keluh kesahnya ketika sang lelaki yakni tokoh kedua dalam cerpen ini akan menceraikannya ia memberanikan diri dan itu butuh kekuatan/ mental yang kuat bagi seorang perempuaan ketika mendapatkan marjinalisasi dari berbagai prespektif tadi maka penyusun rasa bahwa saunah merupakan tokoh feminis dalam cerpen karya taufik el hakim ini dengan hapi ending karena perjuangan saunah yang memberanikan diri untuk berterusterang bahwa ia mengatakan cinta pada sang lelaki yang menjadi suaminya dan saya rasa penulis cocok memberikan judul pada cerpen ini dengan judul rahasia malam pengantin karena alur dan kisah secara totalitas mencakup makna konteks yang memunculkan tema percintaan klasik yang menarik.

Penyusun dalam menelaah karya Taufik El Hakim ini melihat adanya terjadi ambivalensi watak, idiologi tokoh feminis yakni Saunah. Dalam berjalannya roda waktu saunah yang semulanya membenci sang suami akhirnya aia jatuh hati juga padanya. ambivalensi meupakan sikap mendua atau keterfihakan mendua tetapi dalam fresfektif feminis yang fenulis maksud ialah idiolgi yang mendua dan tak tentu diauatu sisi ia memihah terjadinya marginalisasi tersebut dengan unsur kawin faksa tadi oleh ibunya karena alasan ia sangat sayang sedangkan ia tidak menyetujui pernikahan itu dan menghormati sosok ibunya dan disisi lain ia dengan berjalannya waktu tadi dan seringnya mereka bertemu dalam satu atap ia jatuh hati pada sosok lelaki yang di katakan suaminya tadi dan melupakan cinta monyetnya dan ini merupakan suatu keberanian tersendiri ketika seorang perempuaan (Saunah) mengungkapkan segala keluh kesahnya yang tersimpan dalam dada dan di eksplor kepada lelalki yang ia centainya dan saya rasa ia cocok menjadi okoh feminis kalau melihat dari fresfektif yang saya paparkan diatas.

BAB 4

SIMPULAN

Setelah cerpen rahasia malam pengantin (Lailatu Azzafaf) karya Taufik El Hakim di analisis menurut prespektif Feminis Anglo Amerika menggunakan pendekatan image as women sebagaimana telah di tuangkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa cerpen ini merupakan paparan artistic yang sukses tentang tema (masalah) kritik emperik-sosial terutama dalam hal membina suatu hubungan suatu keluarga. Kehidupan berkeluarga sepasang pengantin yang saling mencintai hakikinya, akan tetapi ada problem yang menarik yang membuat cerita itu hidup seperti kisah cinta monyetnya sang istri yang mejadi tokoh utama Saunah kepada pacarnya yang menyebabkan ia menangis pada malam pengantin yang menganggap itulah cintanya padahal tidak demikian terus sang suami merasa iba kepada istrinya tersebut.

 singkatnya mereka melakukan kesepakatan untuk cerai tetapi dengan syarat tertentu dan metode yang dilakukan suaminya itu yang intinya membuat presepsi jelek, image buruk bahwa Saunah memilih suami yng salah dan lambat laun ibunya akan mengizinkan untuk mereka berpisah ini terjadi pada malam pengantin mereka. Dengan berjalannya sang waktu tuhan berkata lain cinta mulai tumbuh ketika masalah-masalah dalam rumah tangga mereka muncul, Saunah yang tadinya tidak mencintai suaminya lambat laun jatuh hati kepada suaminya karena pengorbanan sang suami begitu besar dan ikhlas kepada dirinya. cinta itu seperti kita menyulam benang lambat laun akan menjadi kain dan akan tumbuh seiring roda putaran jam berputar.

Dari synopsis diatas itu kita bisa melihat betapa pendidikan perempuaan sangat lemah, termarjinalkan dan tidak ada fungsionalitasnya yang urgen sama sekali dalam kehidupan bermasyarakat sehingga ia hanya bisa menjadi hiasan rumah tangga saja dan tinggal dirumah saja tanpa ada sesuatu apapun yang mereka sumbangkan untuk kehidupan masyarakat sana. ini bisa dilihat dari karakter dan idiologi Saunah dalam cerpen ini ia terpenjarakan oleh adat istiadat budaya local yang mengekang sehingga ia harus dikawinkan paksa dengan lelaki pilihan ibunya. Dalam konteks kekiniaan itu merupakan sebuah bentuk marjinalisasi terhadap perempeuan itu sendiri ia tidak merdeka penuh seperti kaum adam, ia selalu ada dibawah kekuasaan kaum adam dan inilah kultus yang ada dalam cerpen itu jelas merupakan kritik social terhadap kehidupan social masyarakat arab pada umumnya yang masih konservatif tidak mau membuka mata bahwa lelaki dan perempuaan mempunyai hak yang sama dalam beberapa prespektif.

Yang menarik dari cerpen ini yang berusaha untuk melakukan penyelesaaian atau yang memerdekakan feminis adalah tokoh laki-laki bukan perempuaan (Saunah) penyusun dapat memahami itu, dikarnakan fakta yang membuktikan bahwa gerak-gerik perempuaan dibatasi, tidak boleh ini itulah. adat istiadat budaya yang mengikat seperti inilah yang menjadi bentuk outokritik feminis terutama terdapat unsure marjinalisai terhadap perenpuaan disana. setiap keluarga yang mempunyai anak perempuan, ia barat burung dalam sangkar yang tak bisa bebas dan ini merupakan kritik social Taufik El Hakim terhadap kebudayaan yang membanguan adat istiadat koservatif terutama perempuaan yang menjadi imbas terbesar dari dampak kebudayaan konservatif tadi. intinya kritik sastra feminis membedah unsure karya dalam cerpen ini supaya perempuan bisa merdeka secara hakiki dan mendapatkan hak yang sama seperti kaum laki-laki dalam tatanan social tempat mereka barnaung dan tinggal disana.

Daftar Pustaka

Soenarjati, Djajanegara, Kritik Sastra Feminis, Sebuah Pengantar, Jakarta: Gramedia, 2000,

Ratna, Nyoman Khuta, Teori, Metode, dan Teknik Penelitiaan Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Suroso, Puji Santosa, Pardi Suratno, Kritik Sastra, Yogyakarta: Elmatera Publishing, 2009.

Yulia Nasrul Lativi, Paper Kritik Sastra Feminis (sebagai pengantar awal). Yogyakarta.

Yulia Nasrul Lativi. Paper Analisis Gender dalam Hikayat Raja Pasai. Yogyakarta

Faruk HT, Pengantar Sosiologi sastra

Suwardi Endras wara.2003. metodologi Penelitiaan sastra. Yogyakarta; Pustaka Widyatawa.

Dr. Sangidu, M. HUM. 2007.Lailatul Gaba Anhal Qamar Karya Najib Al Kilani; Analisis struktural Model Fahrud. Yogyakarta; Sumber Aksara

Sugihastuti. 2002. Teori dan Apresiasi sastra. Yogyakarta; Pustaka Pelajar

Zainudin Fananie. 2000, Telaah Sastra, Surakarta; Muhammadyah Univercity Press

Edward W Said. 2001. Orientalisme. Penerbit Pustaka: Bandung.

Khairan Nahdiyyin. 2007. Adonis Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam volumen 1 Terjemahan; Ats-Tsabit wa al-Mutahawwil; Bahts fi Al-Ibda wa Al-Itba ‘Inda Al-Arab. LKIS; Yogyakarta.

Achmad Atho’illah Fathoni. 2007. Leksikon Sastra Arab Modren-Biografi dan Karyanya. Data Media; Yogyakarta.

Catatan;

[1]Muallaqot merupakan jenis perlombaan bersyair setiap satu tahun sekali biasanya berdekataan pada musim haji, di pasar ukadz. Hasil karya yang terpilih akan di gantungkan pada ka,bah dan ditulis tinta emas. Menurut Hammad Al-Rawiwah, para penyair muallqat ada tujuh orang yaitu: Umrul Qais, Zuhair, Tarfah, Antarah, Labid, Amru ibn Kulsum, dan Al-Haris ibn Hilza. Menurut pengarang kitab Jamharah ada tujuh orang juga, namun ia mengganti dua nama penyair yaitu Amru dan Antarah dengan A’sya dan Nabigah sampai pada masa Tabrizy ada sepuluh jumlah penyair muallaqat. Ia mensyarah syair-syair muallaqat dan menggabungkan kedua versi jumlah kedua penyair muallaqat terus ditambah stu menjadi sepuluh orang yakni: Umrul Qais, Nabighah, Zuhair, Tarfah, Antarah, Labid, Amru ibn Kulsum, Al-Haris ibn Hilza dan Abidul Abros.

[2] Kata jahili merupakan lakob/gelar yang di berikan kepada bangsa arab sebelum dating islam yakni pata tahun500 M tau tepatnya 150 th sebelum tahun hijriyah. Rasululah menisbatkan kata itu pada mereka karena peringai moral dan akhlaknya sangat hancur tabiaat mereka kasar, perang seperti rutinitas sehari-hari. Yang lebih parah lagi ketika seorang perempuan melahirkan anak perempuaan ia akan dikubur hidup-hidup karena malu dalam artiaan ketika kalah perang ia akan dijadikan selir/budak bagi kabilah yang menang dalam peperangan tersebut. Rasulualah dengan risalah nubuwahnya mengedepankan aspek moral dan melarang itu semua bahkan melaknatnya. Meskipun kebudayaannya maju akan tetapi aspekmoralnya bodoh (jahil) maka rasululah menamakan bangsa arab sebulum datangnya islam dengan bangsa arab jahili.

[3] Nama lain dinasti ini ialah Turki Ustmani dinamakan mamluk karena mereka berasal dari keturunan budak dan para tentara. Pada masa abasiah orang-orang mamluk mualai bergerak dan memberontak pada masa sesudah kematiaannya khalifah al-mutawakil yang digantikan anaknya yang tidak mempunyai kecakapan memimpin spt ayahnya. Orang mamluk yang notabene dari kalangan militer berhasil mengendalikan kholifahan abasiah dan kholifah saat itu menjadi boneka mereka dan ini yang menyebabkan keruntuhan abasiah secara internal dan mereka mendirikan keholifahan baru di Turki dengan nama keholifahan turki ustmani.

[4] Edward W Said. 2001. Orientalisme. Penerbit Pustaka: Bandung. Hal. 54

[5] Ridwan. Menelusuri jejak sastra arab modern, jurnal Pena UIN_SUKA: Yogyakarta.

[6] Soenarjati, Djajanegara, 2000, Kritik Sastra Feminis, Sebuah Pengantar, Jakarta: Gramedia, hal. 18.

[7] Soenardjati, 2000 , Kritik Sastra Feminis, Sebuah Pengantar, Op. Cit., hal. 18.

[8] Ratna, Nyoman Khuta, 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitiaan Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Hal. 184-185

[9] Yulia Nasrul Lativi, Paper Kritik Sastra Feminis (sebagai pengantar awal).

[10] Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis, Sebuah Pengantar. Ibid, hal. 17.

[11] Soenarjati, 2000. Kritik Sastra Feminis, Sebuah Pengantar. Ibid. Hal. 27.

[12] Teeuw, 1984. Pengantar Teori Sastra. Hal. 135

[13] Ratna, Nyoman Khuta, 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitiaan Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 84

[14] Yulia Nasrul Latifi, Paper Kritik Sastra Feminis (sebagai pengantar awal).

[15] Yulia Nasrul Lativi, Paper Kritik Sastra Feminis (sebagai pengantar awal).

Perihal ukonpurkonudin
ukon Purkonuddin sang Adib dari uin jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: