Tahun Hijriyah Presfektif Aqqad

 I. Pendahuluan

Pertanyaan pertama yang terlontar pada sejarah Hijriyah dalam artikel Aqqad adalah لم يكن يوم بدر أو يوم ولادة النبي او يوم حجة الوداع يومابتداءء التاريخ؟. Dari sinilah Aqqad memulai penulusuran atau mencari alasan tentang tahun hijrih, di mana pada tahun ini dipakai sebagai permulaan tahun Islam. Dengan mengkaitkan alasan, argument, beserta sejarahnya Aqqad menulis dan mencoba memberikan jawaban menurut perspektifnya yang temaktub dalam  artikel“التاريخ الهجري ” aqqad. Dari situlah pemakalah mencoba menemukan makna yang terkandung di dalamnya. Makna tahun hijriyah yang dipakai sebagai permulaan tahun Islam.

Dengan mengunakan teori Struktural Murni sebagai landasannya pemakalah mencoba menganilisis artikel tersebut guna menemukan makna otonom yang terkandung di dalamnya (Intrinsik). Selain itu teori Struktural Murni dipakai untuk mengetahui keterjalinan antara paragraf satu dengan paragraf lainnya guna menemukan makna yang utuh. Secara definif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antarhubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, dipihak yang lain hubungan antara unsur dengan totalitas.

Maka dengan Teori ini pemakalah akan mencari makna Hijriyah yang terkandung dalam artikel Aqqad. Sehingga nantinya pemakalah mengharapkan dapat menemukan keutuhan makna, dengan mangkaitkan beberapa data yang dikutip dari setiap paragraf. Bab II Sekilas Tentang Aqqad Sosok ‘Aqqad (Abbas Mahmud ‘Aqqad) dalam khazanah keislaman selalu diposisikan sebagai Adib (sastrawan), tapi sebenarnya lebih dari itu, karena ternyata ‘Aqqad memegang kunci termahal dalam percaturan pemikiran Islam, sebagai perintis ideologi pemikiran Islam. Djalal ‘Asyri dalam bukunya al-‘Aqqad wa al-‘Aqadiah menegaskan bahwa ‘Aqqad adalah Aristotelesnya filsafat Islam yang merupakan kelanjutan dari dua filosof Islam lainnya, Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh, sebagaimana Aristoteles menjadi orang ketiga filosof lama setelah Socrates dan Plato.

Nama lengkap Abbas Mahmud ‘Aqqad yaitu Abbas Mahmud Ibrahim Mustafa ‘Aqqad, dilahirkan pada 28 Juni tahun 1889 di Aswan. ‘Aqqad dilahirkan dalam suasana keluarga yang sangat akrab dengan disiplin Agama dan disiplin nilai-nilai luhur, sehingga dengan keadaan seperti ini, secara tidak langsung telah memberikan frame dan rel bari kehidupan ‘Aqqad. Ayah ‘Aqqad yang sangat memperhatikan akan kehidupan sang anak pun sangat mendukung atas kelancaran perjalanan ‘Aqqad dalam bertindak dan berfikir. Pada suatu hari ada seminar para ulama yang diikuti pula oleh ayah ‘Aqqad di Al-Mundziroh, saat itu ‘Aqqad masih dalam alam kanak- kanak dan belum dewasa, namun ayahnya memaksa ‘Aqqad untuk mengikuti seminar yang berisikan politik dan wawasan yang lainnya. Ternyata dari pembawaan kejeniusan ‘Aqqad, ‘Aqqad mampu memberikan masukan-masukan dan mampu berdialog bersama para ulama besar yang hadir dalam nadwah itu, itulah diantara ciri-ciri kejeniusan ‘Aqqad yang sudah terlihat semenjak masa kanak-kanak.

Dalam masa hidupnya tiada yang ‘Aqqad ketahui selain Aswan tempat ia dilahirkan dan dikuburkannya serta Kairo sebagai tempat ia bekerja dan berfikir hingga menjadi kiblat para pemikir. Tiada lain yang ia diketahui kecuali Wiliam Shakespire dalam masa hidupnya, Strotford tempat kelahirannya dan London tempat kematiannya, tempat mengukir sejarah dengan kegemilangan syair-syair karyanya. Dalam masa studinya, ketika ‘Aqqad menginjak masa sekolah, ‘Aqqad memasuki sekolah Ibtidaiyyah, namun tak lama kemudian ia masuk madrasah Aswan al-Amiriah.

Berawal dari sini, ‘Aqqad mulai banyak menimba ilmu dari berbagai guru . Madrasah itu pula yang mengantarkan ‘Aqqad menjadi pemikir yang sangat brilian dan kemudian membentuk ‘Aqqad menjadi penulis yang produktif dan berakar. Dari Madrasatul Kuttab lahir pengarang-pengarang yang sangat terkemuka di masanya. Pengantar Kecendekiaan ‘Aqqad: Memandang dan menyikapi ‘Aqqad tidak sama halnya dengan membaca Rene Decrates (1596-1650), Heigel dan John Locke (1632-1704) dengan seperangkat spesialisasi ilmu yang dikuasainya. Upaya ini merupakan sikap yang sangat bijak guna mengetahui ‘Abbas Mahmud Aqqad yang sebenarnya. ‘Aqqad mampu menguasai Islamic Studies, karena pelajaran yang menjadi dasar pijakannya adalah Islam.

Tapi hal ini tidak menjadikan pandangan bahwa ‘Aqqad tidak menguasai dalam berbagai disiplin bidang lainnya. Jika dibandingkan dengan keilmuan yang dimiliki Heigel dan Deskartes, pada kenyataannya ‘Aqqad akan tetap mendapatkan posisi yang sangat memegang fungsi, karena pemikiran liberal dan klasik semacam ini mempunyai potensi berkembang sesuai dengan etos belajar. Maka orang seperti Aqqad tidak hanya seorang ahli dalam agama, tapi bisa menjadi apa saja. Maka tak berlebihan jika Aqqad dinisbatkan sebagai ekor dinusaurus, hal ini bisa dilacak dari kemampuan Aqqad dalam ilmu botani, Fisika, Sosiologi, Filsafat dan lain sebagainya.

Dalam sisi ilmu agama, sosok ‘Aqqad mempunyai mata rantai dengan Jamaluddin al-Afghani dan muridnya, Muhammad Abduh. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan ilmiah ‘Aqqad adalah sebuah jendela untuk mengetahui masa lampau dinamika pemikiran Islam. Jalal al-Asyri menegaskan, bahwa ‘Aqqad adalah orang ketiga yang eksis dalam percaturan sejarah pemikiran Islam modern setelah Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Sebagaimana Aristo menjadi orang ketiga setelah Sokrates dan Plato.

II. Isi/ Kandungan

Artikel Aqqad secara jelas ingin menerangkan sejarah Hijriyah. Hal ini disebabkan oleh ketidakpuasanya terhadap umat muslim yang hanya memilih atau mengimani Hijriyah sebagai permulaan tahun tanpa berpikir atau mencari alasan kenapa hijriyah dijadikan sebagai permulaan tahun oleh umat Islam. Dari situlah Aqqad mencoba mengali informasi dari sejarah dan alasan-alasan, yang dipadukan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Dalam artikel tersebut terdapat koherensi atau pertautan yang erat antara unsur-unsurnya, satuan-satuan bermaknanya. Ada kesatuan ide atau gagasan. Ide atau gagasan itu dapat dilihat dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban yang diberikan, seperti:

  لم كان يوم الهجرة ابتداء التاريخ في الأسلام, ولم يكن يوم الدعوة؟ ولم لم يكن يوم بدر أويوم ولادة النبي أو يوم حجة الوداع يوم ابتداء التاريخ؟

Dan jawaban-jawabannya:

– اختار يوم الهجرة بدءا لتاريخ الأسلام قد كان أحكم واعلم بألعقيدة والأيمان وموافق الخلود من كل مؤرخ وكل مفكر يري غير ما راه, لأنّ العقائد انما تقاس بالشدائد, ولا تقاس بالفوز والغلب – لأنّ مبلاد النبي لم يكن معجزة الأسلام كما ميلاد عيسى معجزة المسيحية

Dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban itu dapat terlihat jelas ide atau gagasan yang dimaksud oleh Aqqad, ide dan gagasan itu hanya tertuju pada satu kesatuan yaitu kata “ الهجري” . Di mana kata “ الهجري” diulang-ulang, dipertanyakan atau pun dipertegas. Maka hal ini terlihat jelas dan selaras dengan judul yang digunakan yaitu “التاريخ الهجري”. Yang mana pembahasan yang terkandung di dalam artikel tidak jauh dari pembahasan “ الهجري”. Bila dianalisis lebih lanjut lagi, pemakaian alasan “ الهجري” sebagai permulaan tahun Islam memiliki kesamaan dalam penjelasan atau pemaknaannya. Maksudnya dalam pemberian alasan memilki kandungan nilai yang sama yaitu positif.

Nilai positif itu seperti: – يوم عظيم, يوم تقويم, أدل الأيام علي رسالته, لأنّ العقائد انما تقاس بالشدائد, ولا تقاس بالفوز والغلب Sementara kata “التاريخ” sendiri dapat dikaitkan dengan argumen sahabat yaitu Umar Ibn Khatab dan beberapa perjalanan nabi yang memiliki unsur historis munculnya tahun Hijriyah, seperti yang tertulis dalam artikel Aqqad.

III. Kesimpulan

Dari paparan di atas dapat pemakalah simpulkan bahwa yang terkandung dalam artikel Aqqad secara keseluruhan menerangkan tentang alasan-alasan atau jawaban-jawaban tentang pemakaian Hijriyah sebagai permulaan tahun bagi umat Islam. Ini dapat terlihat jelas dari unsur-unsur (paragraf-pragraf) yang terhubung satu sama lain yang saling membangun dan memberikan satu pemahaman utuh atau totalitas dalam pemberian makna Hijriyah. Adapun pemaknaan Hijriyah dari telaah di atas adalah: Hari besar umat islam, di mana aqidah dan iman sampai pada titik yang kokoh (Islam).

Perihal ukonpurkonudin
ukon Purkonuddin sang Adib dari uin jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: