My Blog

kunjungi blog gue di; http://ukonpurkonudin.blogspot.com/

Biografi Sastrawan Arab: Mahmud Sami al-Barudi

Mahmud sami al-Barudi  (1838-1904M) merupakan tokoh sastra arab besar yang menjadi pelopor berdirinya aliran neoklasik dalam dunia kesusastraan arab. Al-Barudi mempunyai nama lengkap Mahmud Sami Pasha bin Hasan Husni Bek al-Barudi yang lahir dikawasan Bakhirah tepatnya di desa itay al-Barud pada tahun 1838 M/1255 H.  Semenjak kecil ia dibesarkan oleh keluarga Jarkasyi, ayahnya wafat saat ia berumur 7 tahun. Sejak saat itulah keluarga jarkasyi sebagai sanak familinya mengambil alih kehidupan Barudi kecil mengasuhnya, membina pendidikannya. Menginjak masa remajanya pada umur 12 tahun al-Barudi tertarik untuk menempuh dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kemileteran dengan spesialisasi seni militer dan mendapatkan syahadah ketika usianya menunjukkan ;pada 26 tahun. Jabatan yang pernah disandang ialah sebagai mentri pertahanan dan mentri perwakafan.
Kesuksesan karirnya dalam dunia militer tentunya diperoleh dengan kerja keras, dan itu pasti ia mulainya dari bawah. al Barudi dikenal sebagai seorang prajurit yang miltan, penuh disiplin dan berpikir tajam, maka tidak heran bila dalam jangka waktu yang relatif singkat ia telah memperoleh pengetahuan yang mempuni dalam dunia militer, menguasai benyak teori dan strategi-strategi kemiliteran secara komperhensif. Setelah lulus membawa syahadah dari sekolahnya dimesir, al barudi dikirim menuju paris dan inggris untuk urusan militer. Pada tahun 1290 H, al-Barudi telah menyandang gelar dengan berpangkatkan al-Yawariyyah dan pada tahun 1294 H ia telah menyandang pangkat sebagai komandan perwira. Pada tahun 1282 H/1879 H ia mengikuti sebuah perang di semenanjung kerit dengan atas nama mesir ia membantu turki untuk melawan Rusia.
Dengan berjalannya waktu banyak sekali kesuksesan yang al-Barudi raih dalam dunia kemiliteran, sebagai penghargaan dari jasa-jasanya itulah ia banyak memperoleh hadiah ataupun bintang jasa yang menghantarkannya menuju derjat yang tinggi dalam dunia militer yakn i ia diangkat sebagai Fariq atau kita lebih mengenalnya dengan nama Letjen. Tidak hanya sebetas itu, dalam dunia militer kalirnya semakin meslesat naik pada tahun 1299H al-Barudi diangkat sebagai Rais Lil Wuzara (Perdana mentri) di Mesir. Kesuksesan dan kecemerlangannya dalam dunia kemiliteran membuat bamyak orang memberinya gelar atau sapaan Si Raja Pedang.
Ketika bangsa arab mengadakan pemberontakan  al-Barudi ditangkap  dan dibuang ke daerah Sailan selama  17 tahun. Dalam masa pembuangannya itu ia banyak merenung dan  mereflesikan diri tentang kehidupannya walau pada akhirnya sebelum di bebaskan ia  terserang penyakit yang membuat kedua matanya buta. Setelah bebas ia dikembalikan lagi ke Mesir. Dan disana jugalah menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi al-Barudi, ia meninggal dunia pada tahun 1904 di kairo.
Menulusri kehidupannya dalam dunia sastra itu tampak pada al-barudi masih kecil, semenjak ayahnya wafat (1845 M) ia hidup dalam kesunyian. Situasi dan keadaan tersubet menghantarkannya pada ranah yang sangat positif, yaitu ia memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca buku banyak buku. Al-Barudi saat itu gemar sekali menelaah buku-buku sastra klasik terutama yamng menyangkut dengan tema peperangan, patriotisme dan kepahlawanan. Dalam karya-karya sastranya kita bisa melihat aspek keterpengaruhan al-Barudi oleh para penyair pujaannya seperti Umrul Qais dan Ibnu Mutaz. Ketika ia merantau untuk beberapa kepentingan  ke Turki, saat itu ia manfaatkan untuk mempelajari bahasa Turki terutama dalam bidang kesusastraannya tentunya tanpa meninggalkan perhatiaannya dalam sastra arab.
Bakat dan kepiawaiaannya dalam sastra arab sudah tak terejawantahkan lagi dan itu membawanya menjadi salah seorang tokoh penting dalam dunia sastra arab. Jasanya yang paling besar adalah memecahkan kebuntuan para penyair pada masanya dari kejumudan dan keruksakan bahasa Sejak berdirinya dinasti Ustmani sampai runtuhnya pada awal abad 18, peradaban bangsa arab mengalami keterpurukan dalam berbagai presfektif termasuk menjurus kebidang sastra yang menjadi cerminan kehidupan bangsanya. Pada masa Turki Ustmani model puisinya sangat dangkal dan artifisial mungkin dikarnakan bahasa arab bercampur dengan dialek Ustmani yang sempit ditambah lagi pada masa itu disibukan dengan controling hegemoni daerah taklukan Turki yang sangat luas apalagi pada masa al-Barudi banyak daerah arab yang diduduki turki memberontak sehingga perhatiaan penguasa saat itu sangat kurang tentang memajukan keilmuaan dan peradaban khususnya sastra dan puisi arab.
Melihat dari realitas kejumudan dan keruksahan bahasa itulah al-Barudi memberikan suatu pembaharuaan dalam dunia sastra arab. Pembaharuan al-barudi bisa dilihat dari meluasnya tema-tema lama dalam pembuatan puisi dan itu bisa dikatakan berhasil karena keberhasilan dalam dunia sastra bisa ditopang dari munculnya banyak tema/genre baru sehingga khasanah keilmuaannya menjadi beragam, terutama tema-tema lama yang meluas seperti tema ghazal puisi cinta yang di tambahi dengan nuansa cumbu rayu. Hanin kerinduan yang mendalam dan fakher (berbangga-bangga) serta mengusung tema-tema baru sebagai hasil transformasi dengan keilmuan barat seperti tema nasionalisme, patriotisme, huamnisme, dan tema sosial kedalam sastra arab. Karena jasanya dalam perkembangan sastra arab itulah ia desebut sebagai si raja pena.
Menyimak dari realitas historisnya al-Barudi tidak mempunyai guru ataupun seorang pendidik yang khusus mengajarinya tentang ilmu kesusastraan. Kemampuanya yang gemilang dalam menguasai perpuisian arab maupun barat ia peroleh secara autodidak dan belajar sendiri dengan tekun dan telaten baik semenjak ia belajar di sekolah militer sampai itumbuh dewasa dan menduduki jadatan sebagai mentri dan perdana mentri di mesir. Melihat dari bahasa puisinya ringan namun isinya padat. Pada masa ini merupakan priode antologis (diwani), dimana ia menjadi ikon sastra arab pada masanya dengan diterbitkan puisi ontologi diwannya tersebut. Al Barudi menulis sebuah antologi puisi yang menakjubkan tentang puisi klasik, filolog, marsafi mengumpulkan dan mencetak alwasilah adabiyah yang memuat kutipan kutipan puisi klasik. Seluruh puisinya diterbitkan sebanyak dua kali dalam antologi diwannya. Keduanya merupakan sumber inspirasi dari penyair neokalasik yakni Ahmad Syauki Dan Hafid Ibrahim.
Suatu alasan logis apabila  al-Barudi di jadikan ikon dan tokoh pelopor sastra arab pada masanya, itu tidak terlepas dari alasan-alasan sebagai berikut; ia berhasil menggubah bahasa puitika dalam syair-syair arab yang semula lemah menjadi kuat; kedua ia berhasil memasukan unsur baru dalam syair arab yang beberapa abad telah di tinggalkan yaitu unsur subjektivitas dalam berpuisi. Usaha yang dilakukan kembali Barudi untuk membawa kembali style, bentuk dan musikalitas puisi arab pada masa keemasannya bukan berarti ia taklid buta dan ikut terlarut dalam romantisme kejayaan penyair masa lampau akan tetapi ini merupakan sebuah otokritik bagi penyair sejamannya untuk menjaga tradisi dan peradaban bangsa arab, terlebih lagi mengembalikan kepercayaan penyair sejamannya untuk percaya diri dan muncul dengan karyanya yang baru. Kemudian dengan itu mereka semua bisa menandingi penyair masa lampau yang hidup pada masa ke emasannya dan mereflesikan diri untuk bangkit setelah sekiaan lama berada pada masa stagnasi dan kejumudan.
Dalam perjalannya di belantika kesusastraan arab moden al-Barudi seperti mengalami kecemerlangan yang sama didalam dunia kemiliteran, bahkan bisa dikatakan lebih karena sumbangsihnya yang tak ternilai dengan apapun pada masa kebangkitan bangsa arab sebagai pembaharu puisi arab modern. Tidak hanya itu ia juga dikenal sebagai plopor kritikus sastra modern bagi generasi selanjutnya seperti syauki dan hafidz yang melahirkan aliran sastra arab neoklasik. Dalam karya-karyanya ia berusaha memberikan suatu inovasi dan warna yang menyegarkan dalam kesusastraan arab terutama genre puisi yang banyak diminati oleh masyarakatnya.
Dalam inovasinya itu ia banya melakukan kritikan dan memunculkan sebuah karya yang bernuansa baru. Dalam upayanya itu berusaha keras untuk mensitetiskan puisi puisi klasik pada masa kejayaan bangsa arab dengan puisi-puisi modern yang berasal dari barat. Menurut asumsinya ia  menilai bahwa puisi puisi barat mempunyai kelabihan dari pada puisi-puisi arab dikarnakan isinya mencerminkan realitas sosial yang ada dan memiliki banyak nilai yang bisa di ambil dari pada itu puisi barat tidak kosong dan kaku seperti puisi arab yang lebih mementingkan uslub ketimbang nilai-nilai tadi. Maka tidak heran kalau para penyair arab menjulukinya sebagai Rab As-Saif wa Al-Qalam, Amir As-Syu’ara dan Syair Al Umara. Sebagian dari julukan ini telah penulis paparkan diatas.
Sumber Pustaka;
Idris Marjoko. 2007. Ilmu Balagah Antara Al-Bayan dan Al-Badi’, Teras; Yogyakarta
Achmad Atho’illah Fathoni. 2007. Leksikon Sastra Arab Modren-Biografi dan Karyanya. Data Media; Yogyakarta
M. Ridwan Dosen UIN Jogyakarta.  Menelusuri Jejak Kesusastraan Arab Kontemporer http://carmenqymusshorn.narod.ru/stranicanomer61.htm diakses pd tgl 27 juni 2011 pukul 16.00 wib
SASTRA ARAB BLOG: Aliran Sastra Arab Neoklasik  http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2011/09/aliran-sastra-arab-neoklasik_811.html di akses pada tanggal 26 juni pkul 09.13 wib.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: